Cerita tentang Sospol 1997: Perjuangan mempertahankan BEM FISIPOL

Apa yang membedakan antara manusia pengecut dengan manusia yang menahan nafsu amarah? Apa juga yang membedakan manusia licik dengan manusia yang pandai mengatur siasat dan strategi? Apa pula yang membedakan antara menunggu waktu dengan membuang waktu?Apa pula yang membedakan antara menasihati dengan menggurui? Cukupkah niat sebagai batasan untuk sesuatu yang tipis itu?Bisakah membedakan mereka yang berkoar dengan yang dakwah?

Jujur saja, saya sempat melupakan ayat ini: Al-Anfal 60 yang berisi support Allah untuk manusia yang ngakunya berjuang di jalan dakwah ataupun jihad.

60. Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggetarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan)

***

Tahun 1997 adalah tahun dimana saya menjadi ketua BEM terakhir di Sospol. Sebuah tahun dimana saya berikrar untuk “menghijaukan Sospol” ketika dipinang oleh dua kutub besar ormas Islam di Sospol: teman-teman T******* dan teman H** M** yang tergabung dalam JMF. Sebuah harapan muncul manakala saya berhasil dan menyiapkan kabinet. Sayang, dari sana temen-temen JMF terlalu sibuk dengan agenda internal JMF dan praktis di kabinet cuma ada saya sama Suryo Adi Agung Nugroho(AN 95). Beberapa staff yang lain hanya didapatkan dari luar, sementara rival saya di H** D*** banyak duduk di senat. Saya mulai menduga temen-temen JMF cuma “makakne” saya menjadi “sacrifice” ketika saya sudah mulai vokal dan bersuara.Temen- temen H** D***diluar dugaan saya malah mensupport saya dengan baik dengan memberi masukan, bantuan dan dukungan terhadap kebijakan dan tidak menaruh dendam ketika saya mencutat mereka dari kabinet yang saya bikin.

Bulan-bulan berikutnya adalah bulan penuh darah dan air mata. Ujian pertama adalah ujian tentang kacaunya Opspek 97 di Fisipol. Sejak awal saya tidak tahu ketika teman-teman S****** yang dulunya ikut dimana wakil mereka: Amalinda Savirani menjadi ketua BEM , tahun itu tidak mengirimkan kandidat. Barulah sadar ketika di pertengahan itu wacana penghancuran ataupun pembubaran BEM ataupun student government itulah yang mereka tuju.

***

Opspek 97 adalah opspek yang tidak pernah saya lupakan. Telikungan-telikung an detik per detik ada. Sejak awal persiapan, aroma kejamnya opspek mulai nampak. Ada beberapa teman representasi dari SC yang terdiri dari leader masing-masing jurusan dan BSO yang terbagi menjadi 3 kutub: menolak opspek plus membubarkan bem/senat (K**** S********, S******, S********), mendukung (Kelompok Islam) , dan abstain (D3 dkk). Cekcok dengan panitia pusat di BEM UGM sering terjadi karena fait accomply dari satu dua orang SC yang ternyata membelot untuk kontra, ataupun mengkhianati amanah. Alhamdulillah bahwa politisasi persoalan opspek yang ingin menggerakan opspek ke arah kontra/terpisah dari BEM UGM menjadi tereliminir.

Sukses di SC ternyata tidak membawa dampak bagus di pelaksanaan. Teman-teman JMF banyak terlibat di seksi pemanduan dan hanya satu yang terlibat di seksi acara. Teman-teman kiri masuk ke seksi acara dan memasukan idiologinya untuk anti BEM/student goverment, memasukkan simbol-simbol lagu-lagu, yel-yel dan pembicara dari kalangan mereka. Harapan bahwa dari JMF akan mendapatkan kader dengan cara menjadi pemandu untuk berinteraksi langsung dengan peserta bubar total.

Bukan itu saja. Ketika terjadi Pawai dari Sekip ke Bulaksumur, peserta mandeg di depan kantor BEM dan dipaksa oleh seksi acara untuk meneriakkan BUBARKAN BEM..BUBARKAN SENAT..dll. Saat itu ketua BEM Subiantoro (KAMMI) dan ketua senat adalah Ridaya La Ode Ngkowe (HMI MPO) ataupun rejim dari gerakan Islam. Pusingnya saya. Saat di Bulaksumur, kami yang jelas-jelas orang BEM atau Senat Fakultas harus memikirkan cara: bagaimana ngomong di sesi perkenalan peserta tentang lembaga ini? Alhamdulillah Allah Maha baik. Saat itu saya bisa membalikkan keadaan ketika dialog dengan peserta/anak- anak peserta opspek:

Feriawan: “Adik-adik tahu siapa itu BEM atau Senat?”

Setelah diam beberapa saat..

Peserta: “Tidakkk…” :

Feriawan: “TIdak tahu?Lha tadi kok teriak-teriak Bubarkan BEM dan Senat?”

Peserta”Lha disuruuuuuuuhhhh”

Sumpah serapah binatang terdengar dari belakang saya dari teman-teman kiri yang menset acara.

Ujian datang lagi. Ketika opspek universitas, ternyata ada perlakuan yang tidak kompak dari Panitia fakultas lain. Adik-adik sudah mendapat pesan dari seksi acara jika ada sesuatu yang tidak beres, maka langsung lapor. Hanya karena satu dua wadulan adik-adik. Maka teman-teman kiri yang memang anti BEM melakukan sweeping menarik anak-anak sospol dari fakultas-fakultas dan mengakibatkan beberapa ancaman yang jatuh ke diri saya selaku ketua BEM. Beberapa fakultas lain siap-siap nggrudug ke sospol. Untung pula saya bisa melakukan normalisasi keadaan.

Malam itu, kian mencekam karena akibat sweeping mereka, pihak Universitas mengancam tidak memberikan Ijazah lulus opspek kepada Sospol. Teman-teman kiri menuduh sayalah yang harus bertanggungjawab untuk ancaman itu. Padahal, merekalah yang menarik anak-anak itu. Saya dan tiga orang teman, menyatakan tidak bersedia menanggung perbuatan mereka (dikelilingi lebih dari 100 orang yang panik dan memandang sinis pada kami). Karena ketidakbersediaan saya, mereka menganggap saya pengecut dan tinggal gelanggang colong playu.

Saya masih bisa menakar keadaan dengan membalikkan fakta bahwa kemudian ijazah berhasil sampai ke tangan saya karena lobby dengan pihak universitas perihal insiden tersebut. Tetapi akibatnya, kami: BEM dan Senat, adalah most common enemy in sospol.

*****

Hari berganti. Hari itu adalah saat dimana pihak Fakultas punya hajat untuk mengadakan dies natalis. Sebuah isu terselenting bahwa Fakultas tidak akan menyediakan acara malam musik di Fisipol. Logikanya, acara musik itu adalah acaranya teman-teman Non JMF untuk hura-hura. Dana yang dikeluarkan adalah dana dari Fakultas dan bukan pos BEM.

Teman-teman dari S******** dan dibeking S********* memojokkan saya untuk melakukan lobby minta agar acara itu tetap diadakan. Saya menolak. Entah karena motif idiologis ataupun memang anti kiri.

Acara dies tetap berlangsung. Hasilnya, amarah teman-teman itu tidak bisa dibendung. Malam hari kaca kantor BEM Pecah berantakan, beberapa barang berserakan dan bau pesing kencing ada di sana-sini beserta basahnya di antara berkas-berkas kertas kegiatan kami. Pagi-pagi saya berjalan dengan hati nggak karuan. diantara pecahan-pecahan kaca, membersihkan sebisanya.

Persoalan tidak selesai sampai di situ. Setelah kantor bersih, ada issue tidak sedap dan kabar burung dari teman-teman kiri. Konon pada malam hari mereka diteror oleh hantu perempuan berambut api dan berbagai mahluk halus di Sospol kepada mereka yang mengencingi kantor saya.

Pagi hari ada selebaran di sana sini berbunyi kurang lebih: “Hati-hati, ketua BEM sekarang adalah seorang Alladin dan berniat menjadikan Sospol menjadi Agraba!!!” (Agraba adalah negara jin dalam dongeng 1001 malam)

****

Hari berikutnya tidak ada cerita indah kecuali saya yang makin depresi mendapati kacaunya dunia Sospol. Agenda tidak berjalan dan hilanglah sudah impian tentang menghijaukan Sospol. LPJ saya ditolak. Sampai dengan pemilu terakhir yang memilih Santi. Santi tidak tamat membawa BEM karena bubar di tengah jalan.

***

7 thoughts on “Cerita tentang Sospol 1997: Perjuangan mempertahankan BEM FISIPOL”

  1. Aneh memang kalau mahasiswa fakultas I L M U S O S I A L dan I L M U P O L I T I K tidak memiliki pemerintahan mahasiswa. Tahukah teman2 sekalian bahwa Fisipol UGM menjadi bahan olok-olokan karena hal tsb. Satu-satunya fakultas di UGM yg tidak memiliki BEM. Tidak punya karena tidak mau punya atau memang karena tidak sanggup. Kami tunggu kawan, perjuangan kalian mahasiswa Fisipol untuk menjadi bagian dari BEM FISIP se-Indonesia…..

  2. @Univ Tetangga, pergulatan kelembagaan sangat sinergis dengan pergulatan pemikiran. Setahu saya, saat itu yang berkembang adalah wacana dekonstruksi ataupun wacana tentang sistem tanpa kelas yang (barangkali) menganggap bahwa setiap struktur yang diciptakan akan hadir untuk menindas.

    1. kabar baik, bung. saya sudah mendengar itu lama dari mas munir.😦 iya katanya meninggal karena sakit diare atau apa di panti rapih. semoga arwahnya mendapat tempat terbaik di sisiNya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s