Kultum lagi: Taqwa kepada Allah (materi ringan kok, nggak usah serius-serius bacanya)

Hanya sekedar mengingati materi pengajian dari Ust Yunahar Ilyas, entah kapan saya lupa. Beliau bilang, cara orang untuk bertaqwa, ataupun menjalin hubungan dengan Allah itu ada 3 cara ataupun sebab:

Pertama, bertaqwa dengan cara mencintainya ataupun mendamba cintanya. Orang yang seperti ini merasakan bener-bener bahwa apa yang ada di sekitarnya ini tidak lain dan tidak bukan menjadi ada ya karena Allah semata. Maka bagi dia mulai dari melek mata sampai dengan meremnya tidak lain dan tidak bukan cuma diisi dengan rasa syukur semata. Yah, layaknya orang jatuh cinta lah. Kaum sufi mengibaratkan bahwa rasa syukur ini layaknya orang mabok kepayang di dunia dan tidak perduli dengan apapun yang ada kecuali cinta Allah. Ibaratkan menyiram neraka dengan air cinta dan membakar surga dengan api asmara, menghilangkan semua alasan dan hanya cinta saja. Maka cukuplah cinta Allah itu.

Kedua, adalah orang yang bertaqwa dengan segenap ketakutan karena kebesaran Allah semata. Entah karena bencana, trauma, imajinasi, neraka ataupun segenap ketakutan untuk berbuat salah karena kemahakuasaan Allah. Orang ini begitu detil dan waspada manakala segala hal kaitannya dengan melanggar sesuatu yang Allah minta. Hati-hati banget di dunia dan menganggap dunia ini laksana melangkah di atas jalan penuh duri. Mulai dari kulitnya, bajunya, makanannya, orang yang diajak bicara sampai dengan segala sesuatu yang ditemuinya, selalu dikonsultasikan dengan nalarnya demi tidak melanggar apa yang Allah sampaikan. Totalitas, patuh !

Ketiga, adalah orang yang bertaqwa layaknya jual beli: dia bertaqwa karena tertaik dengan janji-janji Allah yang mengiming-imingi surga, ataupun dia bertaqwa karena takut akan neraka. Semuanya dia hitung-hitung: amalnya, sumbangannya, dakwahnya, nafkahnya dan lain sebagainya dengan akumulasi pahala yang diterima, plus semua juga dihitung ketika dia melakukan hal-hal yang sekiranya berakibat dosa. Haram, makruh, mubah dan segalanya dia hitung. Ketika berhubungan dengan masyarakat dan melakukan amalan pun juga dia hitung mana yang pahalanya paling besar, baru dia memilih yang itu. Doanya pun barangkali isinya dimaterialkan: kemuliaan dunia akhirat, keselamatan keluarga, kemakmuran, kekayaan, kecantikan dan semua-muanya. Allah pun menjanjikan: berbisnis dengan Aku, tidak akan pernah rugi.

Mana yang terbaik diantara ketiganya? Ternyata ketiga-tiganya boleh dilakukan dan tidak bisa diperbandingkan. Ujung-ujungnya, tujuan dari ketakwaan itu juga sama: kalau dilakukan dapat cinta Allah (entah direpresentasikan dengan surga, keberkahan dll) dan kalau dilanggar dapat bencinya Allah (entah direpresentasikan dengan adzab, murka, neraka, kerugian dll). Orang yang demikian cinta kepada Allah tentunya tidak akan pernah rugi di dunia maupun di akhirat. Orang yang demikian cinta kepada Allah , laksana budak Allah, tentunya akan mematuhi segala apa yang disyariatkan atau diperintahkan Allah. Orang yang bertaqwa dengan alasan surga, mana bisa tidak meyakini Allah? Bagaimanapun Allah adalah Dzat yang abstrak dalam panca indera sehingga hanya percaya saja yang bisa membuat dia seolah sedang berbisnis dengan sesuatu yang nyata. Maka diantara ketiga cara di atas, tidak ada yang lebih baik ataupun lebih buruk. Sah-sah saja mencintai dengan model salah satu diantaranya.

Ngomongin tentang soal percaya dan tidak percaya kepada Allah, barangkali ada diskusi di sebuah kelas.Di sebuah mata kuliah, suatu saat ada diskusi di kelas ada diskusi model Tawa Sutra dari seorang Profesor dengan salah seorang Mahasiswanya dan didengarkan oleh sekian orang di kelas. Di sebuah mata kuliah, suatu saat ada diskusi di kelas

Di sebuah mata kuliah, suatu saat ada diskusi di kelas

Profesor : Kamu punya agama, kan?

Mahasiswa : Ya, Pak.

Profesor : Jadi, Kamu percaya tentang TUHAN ?

Mahasiswa : Ya iya lah, Pak.

Profesor : kamu yakin TUHAN itu baik?

Mahasiswa : So Pasti, lah.

Profesor : sangat-sangat yakin TUHAN MAHA BAIK ?

Mahasiswa :Yah. Kenapa sih, Pak

Profesor : Gini. Coba kamu pikir: Adik saya mati karena kanker. Padahal dia sungguh-sungguh memohon pada TUHAN untuk membuatnya sembuh. Hampir tiap hari berdoa, deh. Coba bayangkan, orang manusia seperti kita tentunya akan kasihan, tergerak untuk membantu sesamanya ataupun siapapun yang membutuhkan. Tetapi nyatanya TUHAN tidak. Dia tetep saja mengambil nyawa adik saya. Bagaimana bisa dikatakan TUHAN itu baik ? Hayo?

(Mahasiswa itu diam )

Profesor : Kamu nggak bisa menjawab, to? Mari kita mulai lagi, anak muda. TUHAN selalu BAIK?

Mahasiswa :Iya.

Profesor : Setan itu baik ?

Mahasiswa : Ya nggak , lah. Mana ada setan kok baik.

Profesor : Setan diciptakan siapa?

Mahasiswa : Ya diciptakan. . . TUHAN . . ..

Profesor : Tuh, kan. Coba jawab juga, apakah di dunia ini ada kejahatan karena perilaku setan?

Mahasiswa : Ya iya lah.

Profesor : Kejahatan setan ada dimana-mana dan terus melakukan kejahatan di muka bumi, bukan? Dan TUHAN adalah sumber dari segalanya, termasuk kejahatan setan. Benar nggak?

Mahasiswa :Iya.

Profesor : Jadi jika dirunut, siapa penyebab kejahatan yang dilakukan oleh setan?

(Mahasiswa tidak menjawab)

Profesor : Kamu paham, kan. Kalo kekerasan, perilaku tidak bermoral, kebencian, kejelekan, dan semua hal yang mengerikan itu terjadi di dunia, betul?

Mahasiswa :Ya, Pak.

Profesor : Jadi, kamu tahu dong, siapa penyebab utama yang membuat hal-hal yang kayak gitu itu bisa terjadi?

(Mahasiswa tidak punya menjawab)

Profesor : Dengan Ilmu pengetahuan bisa dijelaskan kalo kamu mempunyai 5 indera yang kamu gunakan di dunia untuk mengidentifikasikan dan mengetahui segala sesuatu yang ada di sekitarmu. Sekarang coba kamu jawab, Nak. . . pernahkah nggak kamu melihat TUHAN ?

Mahasiswa : Ya jelas Belum, lah, Pak.

Profesor : Kalo nggak, kasih tau saya jika kamu pernah punya pengalaman merasakan atau menginderai Tuhan dan teridentifikasi bahwa dia ada?

Mahasiswa : Belum pernah, Pak.

Profesor : Jadi? Sekali lagi ya: bisakah kamu melihat TUHAN, Mencicipi TUHAN, Membaui TUHAN? Bisakah kamu menginderai ataupun mendeteksi dengan jelas tentang keberadaan TUHAN ?

Mahasiswa :Tidak, Pak. Sayangnya tidak.

Profesor : Lah? Kamu masih yakin kalau DIA ada?

Mahasiswa :Iya.

Profesor : Kamu tahu? Didasarkan pada kajian empiris, dapat teruji, dan tersistematis, ataupun syarat-syarat Ilmu pengetahuan, jelas-jelas tersimpul bahwa TUHAN mu itu memang tidak ada. Hayo, kamu mau ngomong apa, Nak?

Mahasiswa : Ya..memang sih, saya tidak membantah itu, Pak. Saya Cuma yakin doang.

Profesor : Ya,”keyakinan”. Dan itulah kacaunya ilmu pengetahuan.

(Suasana jeda sebentar)

Mahasiswa : Nah, kalo sekarang saya yang gantian nanya, gimana pak?

Profesor : Boleh, demokratis kok. Siapa takut? Mahasiswa :Ehm, Profesor, panas itu nyata ya?

Profesor : Ya.

Mahasiswa :Dan dingin itu nyata?

Profesor : Ya.

Mahasiswa :Wah. Ya tidak dong, Pak. Anda salah. Nggak ada itu.

(Dosen pengajar ini sejenak diam)

Mahasiswa : Pak, Anda bisa mengukur sesuatu itu dengan sebutan cukup panas, lebih panas lagi, sangat panas, super panas, panas membara, sedikit panas ataupun tidak panas. Tetapi kita tidak akan pernah bisa mengukur dingin. Kita bisa mengatakan bahwa sesuatu yang 458 derajat fahrenheit di bawah nol itu tidak memiliki panas, cukup. Sesuatu tersebut sesungguhnya tidak bisa dikatakan dingin. Dingin hanyalah satu ‘kata’ yang kita gunakan untuk menggambarkan tidak adanya panas. Kita tidak bisa mengukur dingin. Panas adalah Energi. Dingin bukan lawan atau kebalikan dari panas, Pak. Dingin cuma sebutan untuk tidak adanya. Panas. Jadi, dingin itu tidak nyata.

(Kali ini kondisinya agak terbalik di benak Profesor)

Mahasiswa : Bagaimana dengan gelap, Profesor? Gelap itu nyata-nyata ada?

Profesor : Ya. Seperti malam yang gelap, bukan?

Mahasiswa : Anda salah lagi, Pak. Gelap itu menjadi hilang ketika ada sedikit cahaya, cahaya normal, cahaya terang, cahaya benderang. . . Tetapi jika suatu saat kita terus menerus tidak mendapati cahaya di sekitar kita, kita tidak melihat apapun dan kemudian kita menyebut kondisi itu dengan kata gelap, kan Pak? Pada kenyataannya, bukankah kegelapan itu tidak ada. Jika kegelapan itu ada, tentunya kita bisa membuat satuan ukuran, katakanlah gelap sedang, gelap biasa ataupun gelap sekali, bukan?

Profesor : Nggak gitu, Nak. Sebenarnya kamu ngomong dari tadi itu arahnya ke mana, Anak muda ?

Mahasiswa : Pak, maksud saya gini, saya cuma mau mengatakan bahwa paparan sebab akibat yang anda gali secara filosofis tadi itu cacat.

Profesor : (Sewot) Cacat? Cacat apanya?

Mahasiswa : Pak, Anda sedang mencampuradukkan logika. Ada dualitas sebab akibat. Anda berpendapat ada kehidupan dan ada kematian, ada TUHAN baik dan TUHAN buruk. Anda sedang melihat TUHAN sebagai sesuatu yang dikonsepsikan memiliki batasan, sesuatu yang bisa diukur. Pak, padahal ya, Ilmu pengetahuan itu sendiri tidak bisa menjelaskan setiap peristiwa yang ada di muka bumi sekalipun itu kasab mata. Ilmu pengetahuan mengenal Listrik dan Magnetik, tetapi tidak bisa secara gamblang memberikan definisi konkrit dari Listrik dan Magnetisme, Cuma menjelaskan suatu kondisi dan tidak bisa menguraikan secara konseptual. Nah, untuk memandang kematian sebagai lawan dari kehidupan, jelas-jelas anda tidak menggunakan dasar ilmiah sebagaimana yang anda sebutkan tadi. Mengapa? karena mati itu tidak bisa dijelaskan secara ilmiah. Kalau boleh saya bilang, kematian itu kan bukan lawan dari kehidupan: tetapi hanya kondisi bahwa sesuatu itu tidak hidup. Sekarang saya ingi mendengarkan dari anda , Profesor, apakah Anda mengajaran pada Mahasiswa bahwa mereka pada jaman dahulu nenek moyangnya adalah Monyet?

Profesor : Ya kalo kamu sedang melihat pada proses evolusi alam, ya, tentu saja, Saya mengajarkan itu.

Mahasiswa : Memangnya Anda pernah melihat suatu kejadian evolusi dengan mata kepala sendiri, Pak?

(Professor menggelengkan kepalanya dengan satu senyuman, dia mulai menyadari ke arah mana argumen mahasiswa itu ditujukan)

Mahasiswa : Jika tidak seorangpun pernah mengamati proses evolusi di suatu tempat dan tidak bisa membuktikan bahwa kejadian evolusi ini adalah sebuah proses yang terus menerus, saya khawatir, jangan-jangan apa yang Anda ajarkan itu hanyalah pepesan kosong saja, Pak? Anda bukan seorang Ilmuwan tetapi cuma tukang ngomong doang?

(Kelas gaduh)

Mahasiswa : Udah, gini aja deh. Apakah ada di kelas ini yang pernah melihat otak Professor ?

(Kelas penuh dengan gelak tawa)

Mahasiswa : Ada nggak di sini yang sudah pernah mendengarkan otak Professor, merasakan otaknya, menyentuh atau mencium otaknya itu? . . . Tak seorangpun pernah melakukannya. Jadi, sesuai dengan aturan yang sudah diakui tentang syarat-syarat empirik, stabil, dibuktikan dengan demonstrasi, maka secara ilmu pengetahuan dapat dikatakan bahwa anda tidak mempunyai otak, Pak. Dengan segala hormat, Pak. Bagaimana saya dan teman-teman bisa percaya dengan apa yang anda ajarkan, Pak?

(Ruangan Hening. Professor terbelalak melihat mahasiswa, mimik wajahnya tidak bisa dilukiskan, pokoknya nggak karuan)

Profesor : Mikir kok mumet. Saya kita kamu tidak perlu ambil pusing tentang itu. Kamu bisa percaya dengan apa yang saya ajarkan. Kenapa? Mana ada orang bisa ngajar kalau nggak punya otak. Masak kamu gak percaya?

Mahasiswa : Nah, itu dia, Pak. . . ! Yang menghubungkan antara manusia dan TUHAN cuma “KEPERCAYAAN”. Kepercayaan itulah yang tetapi hidup dan terpelihara.

Tahu siapa mahasiswa itu?…. Albert Einstein. Tulisan di atas saya terjemahkan sendiri pake logat saya. hehehe…semoga bisa dinikmati.

One thought on “Kultum lagi: Taqwa kepada Allah (materi ringan kok, nggak usah serius-serius bacanya)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s