Memahami Kebutuhan Istri

Seberapa pahamkah seorang suami tentang kebutuhan istrinya? Semestinya itu persoalan yang wajib bagi setiap muslim atau lelaki untuk bisa memahami perempuan ataupun istri. Diperintahkan oleh Allah untuk menjaga diri kita dan keluarga kita dari api neraka. Penerjemahan ayat ini adalah perintah untuk memberikan kesejahteraan yang optimal kepada keluarga mulai dari istri dan anak. Harus diingat dan disadari bahwa rumah tangga berpotensi bisa menjadi penjara baru bagi perempuan yang sudah menikah, karena dia sepenuhnya berada dalam kuasa suami. Perempuan tidak lagi bisa bebas dan merdeka tanpa ijin dari suami. Tidak bisa lagi bebas kluyuran, ikut organisasi, ikut JMF dan lain sebagainya tanpa restu dari suami. Maka siapapun manusianya (khususnya perempuan) akan rentan dengan potensi menderita dan terbelenggu ikatan perkawinan jika suami tidak bisa memberikan kesejahteraan bagi istri. Jika sampai istri tidak merasa sejahtera di keluarga, maka surga baginya dan neraka bagi suaminya. Masya Allah gitu loh.

Maka kewajiban suami adalah mencukupi kebutuhan istrinya yang setia ini dengan perasaan tenang, damai, terlindungi, tercukupi dan tidak ada kekhawatiran sedikitpun berada dalam kerangkeng keluarga. Bukan saja materi yang harus dicukupi, tetapi juga kasih sayang dan kepandaian untuk membuat rumah tangga layaknya surga untuk sebuah keluarga. Keluarga bukan menjadi penjara.

Saya bisa bayangkan betaba bahagianya Aisyah ketika rasul memberikan hadiah meskipun hanya sebongkah batu. Nggak tau apa yang dimaksud rasul demi sebuah batu itu, tetapi saya yakin bahwa Aisyah diliputi sejuta perasaan: geli, gemes, aneh, tambah cinta atau apa lah. Kalo udah gitu, siapa sih yang nggak cinta sama suami?

Ada juga hadits yang menyuruh kita menghormati ibu kita, tiga kali daripada bapak kita. Bayangkan! Istri saya adalah orang yang dihormati oleh anak-anak saya tiga kali lebih mulia daripada saya dihadapan anak-anak. Saya tidak perlu cemburu dengan itu. Sebaliknya untuk menjaga agar istri saya bisa dihargai oleh anak-anaknya, jangan dibiarkan dong istri kita jadi bodoh ataupun tidak berkembang. Ntar kalo anak-anak sekolah dan mendapati ibunya kurang gaul atau kurang cerdas dan menjadi tidak pantas untuk dihormati, walah, ntar suami juga yang harus menanggung akar kesalahan dari kebodohan istri.

Nah, maka pendidikan perempuan baik dari masyarakat atau sesama perempuan itu harus menjadi prioritas bagi para suami untuk memberikan ijin bagi perempuan beraktifitas di luar sejauh tidak melupakan kodratnya. Kalo istri cerdas, kan keluarga cerdas juga. Siapa yang untung coba?

Masih banyak kewajiban yang diamanahkan oleh Allah dari dua point yang saya suguhkan di atas. Maka sudah semestinya kaum lelaki belajar mengenai perempuan bukan hanya dari sisi seksualitas, asmara dan eksploitasi cinta semata, tetapi lebih dari itu: kesiapan untuk memenuhi kebutuhan perempuan baik sebagai istrinya dan ibu bagi anak-anaknya. Poin itulah yang semestinya dikedepankan dan diikrarkan pada masa-masa taaruf ataupun pacaran, sehingga tidak lena dengan pengaruh cinta sesaat yang lebih banyak menyesatkan. Salah melangkah sedikit, maka seumur hidup akan menyesal dan terancam masuk ke dalam api neraka. Dari sanalah ikhwan perlu bertanya: mampukah dan pantaskah aku mendapatkan seorang istri, atau dua, tiga dan empat. Itulah yang coba saya pahami sehingga saya merasa wajib membuat istri tersenyum manis.

Sayangnya, terlalu banyak aktifitas publik yang tidak sensitif gender sehingga perempuan harus memilih: beraktifitas dengan meninggalkan keluarga atau sebaliknya. Ketika aktifitas publik diutamakan, keluarga berantakan dan sebaliknya. Bagaimanakah contoh aktifitas publik yang sensitif gender? ternyata syaratnya lumayan banyak: lokasi dekat dengan rumah, dilakukan di jam luang seperti diluar jam memasak, mengurus anak dan mengurus suami, tidak terlalu sering berikhtilat. Bingung kan? Ni dia yang harus menjadi bagian dari manajemen keluarga, khususnya suami tuh, biar istri nggak terkungkung dan terkurung. Semoga di jaman internet yang makin murah ini aktifitas publik tidak lagi dibatasi oleh ruang dan waktu. Amin.

Saya tidak tahu pasti apakah di UGM, khususnya Fisipol persoalan gender menjadi mata kuliah ataupun bahasan khusus dalam setiap studinya. Persoalan ini nyata dan kasab mata. Maka layak untuk menjadi bagian dari mata pelajaran studi gender di berbagai bidang studi di Fisipol. Taruhlah bahwa kesejahteraan keluarga di Indonesia sesungguhnya menjadi bagian dari tanggungjawab negara. khususnya persoalan kesejahteraan kaum ibu. Semua itu tidak bisa terwujud jika pembangunan dan studi yang mendasarinya tidak berwawasan gender. Sangat disayangkan bahwa bahasan-bahasan persoalan gender yang pernah saya baca begitu njelimet dan mbulet. Kalau persoalannya nyata, maka logika yang mendasari persoalan itu semestinya sederhana. Kalau sederhana semestinya banyak pihak bisa memahaminya. Tetapi jangankan laki-laki, banyak pula perempuan yang tidak bisa memetakan dan mencerna dengan baik persoalan gender.

Semoga bisa menjadi hikmah untuk saya dan sahabat-sahabat semua.

Salam
Feriawan.

2 thoughts on “Memahami Kebutuhan Istri”

  1. wah mas, jebule…………..
    tuh artikel bagus banget, bisa jadi referensi kaum muda tuh.
    eh tapi aku masih kagum (mlongo/ndlongop)sama kepandaian situ di berbagai bidang,(sajake IRI).
    crita dunk prosesnya iar jadi semangat hidup<<===meminta dengan memelass

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s