Rasulullah: Antara cinta dan keadilan

Mana yang lebih didahulukan Rasulullah? Cinta ataukah keadilan?Wallahu A’lam.

Cerita tentang bagaimana Rasulullah memutuskan suatu perkara secara adil sudah banyak sampel peristiwanya. Saya hanya mengambil manakala Rasulullah mengalami pengalaman diplomatik terhadap kabilah-kabilah Quraisy dengan menjadi juru damai. Rasulullah menjadi penengah atas pertikaian mengenai kabilah mana yang berhak memindahkan hajar aswad ke tempat semula ketika ada renovasi ka’bah. Dengan cemerlang Rasulullah mengambil sehelai kain dan memerintahkan semua wakil kabilah untuk memegang ujung setiap kain. Setelah hajar aswad Rasulullah letakkan di tengah kain, seluruh kabilah mengelus jenggot atas kebijaksanaan yang Rasulullah berikan sembari mengembalikan hajar aswad ke tempatnya semula.

Ketika persoalan diantara sahabat antara sholat dan tidak sholat lagi manakala di perjalanan tidak ditemukan air wudlu dan kemudian tayamum, dan ndilalah pas selesai sholat malah ketemu air wudlu, juga diputuskan secara adil dan bijaksana oleh rasulullah.

Itulah sosok rasulullah yang adil dalam memutuskan perkara.

Tetapi lihatlah manakala rasulullah sendiri yang berperkara. Rasul akan menempatkan cintanya diatas keadilan. Di sebuah musim haji, Nabi berpidato untuk yang terakhir kalinya. Inilah peristiwa yang disebut haji wada’ atau haji perpisahan dengan Nabi. Nabi berpidato meminta maaf kepada kaumnya. Bila ada yang merasa pernah dijahati Nabi, silakan membalas atau men-qishash. Seorang sahabat berdiri dan bilang, saat dia berperang, tubuhnya pernah tercambuk oleh Nabi. Tercambuk, bukan dicambuk. Nabi pun menyuruh Ali mengambil cambuknya. Nabi telah bersiap untuk dicambuk, tapi sahabat itu tetap urung. Dia bilang, saat tercambuk Nabi, punggungnya sedang terbuka. Nabi pun membuka pakaiannya. Saat orang menahan napas, tak tega dengan pembalasan itu, bahkan Umar sempat menawarkan agar punggungnya saja yang dicambuk sebagai ganti, dan ini ditolak Nabi, sahabat yang siap mencambuk tiba-tiba melempar cambuk dan memeluk serta menciumi Nabi sambil berkata, “Aku rindu untuk menempelkan punggungku dengan punggungmu, Ya Rasulullah.” Rasulullah merasa haru dan bilang, “Inilah ahli surga.”

Jikasaja Rasul mengutamakan pengadilan ataupun keadilan, tentunya akan ada hakim atau sidang yang memutuskannya. Tetapi Rasul lebih memilih pasrah dan siap dicambuk meski saat itu keadaannya sudah sangat sepuh.

Saya tidak hendak mengatakan bahwa sikap Rasulullah adalah yang harus dicontoh, karena pada suatu masa keadaan bisa berubah. Dalam pemahaman saya, Rasulullah akan bertindak sebagai hakim yang adil, plus solutif terhadap terhadap persoalan ummatnya. Tetapi jika beliau berperkara dengan orang lain, maka yang dikedepankan adalah cintanya.(*)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s