Pelajaran dari Kesalahan Rasulullah

Dalam bulan Ramadhan mulia ini setidaknya akan ada sebuah cerita yang selalu diulang oleh Ust Suprapto Ibnu Juraimi di setiap PIR (Pengajian I’tikaf Ramadhan). Saya sendiri tidak pernah bosan mendengarkan cerita itu. Yakni tentang teguran Allah SWT kepada RasulNya yang dibukukan dalam kitab suci Al-Quran, khususnya di surah Abasa.

Dalam sebuah peristiwa, Rasulullah akan diundang oleh para pembesar-pembesar kaum Qurais untuk menceritakan tentang ajaran, idiologi ataupun misi dan visi beliau. Maka, betapa senangnya Rasulullah menyambut undangan itu.

Dalam sebuah permisalah, Ust Prapto menggambarkan layaknya kita akan diundang ke istana negara dengan jemputan khusus, tempat khusus dan para tamu dari berbagai negara dan upacara kenegaraan. Sangat spesial.

Maka, segala persiapan mulai ditata: makalah, powerpoint, baju dan kemeja, press release dan segenap antah berantah yang serba spesial. Wajar dong, diundang sama pembesar kelas atas gitu loh!

Tapi, ditengah persiapan itu ternyata datanglah seorang buta hina dina menanyakan satu dua hal kepada Rasulullah. Entah apa yang sedang dicari oleh orang Buta itu, dengan tidak melihat situasi dan kondisi bahwa orang yang dihadapi sedang sibuk dan punya agenda penting, dia nyerocos menceritakan pengalamannya dan meminta pendapat Rasulullah.

Barangkali kalau saat itu saya yang sedang dihadapi orang buta itu, tentu saja saya akan menyampaikan keberatan saya dan segenap permohonan maaf saya kepadanya untuk datang lain waktu, karena agenda yang maha penting yang hendak saya hadapi.

Rasulullah lebih santun. Dia hanya menunjukkan dengan bahasa isyarat wajah yang tidak suka. Atau lebih tepatnya bermuka masam.

Hal itu tentu saja manusiawi. Sebagai manusia, dalam skala prioritas tentunya akan lebih mengutamakan diundang presiden daripada melayani pertanyaan dadakan oleh orang buta.

Tetapi lain manusia, lain pula Allah SWT. Dengan sangat tegas dan keras Allah menegur Rasulullah lewat surat Abasa. Rasulullah dikecam Allah untuk mendekonstruksi lagi niatnya, pemikirannya dan mandatnya sebagai seorang penyampai ajaran. Dalam surat itu Allah membeberkan lagi bahwa persoalan kerisalahan itu BUTA, tidak pilih-pilih,  terhadap siapapun yang dihadapi. Asal dia butuh, maka wajib bagi siapapun memberinya. Bahkan secara lebih menohok Allah mendekonstruksi: Belum tentu bahwa para pembesar yang mengundangnya itu merupakan orang yang bener-bener butuh didakwahi. Tidak ada tanggungjawab yang mengikat kepada Rasulullah ketika para pejabat Qurais itu tidak beriman. Tidak ada celaah kepada Rasulullah. Tetapi sebaliknya, meskipun orang buta hina dina itu kesannya ngerecoki ataupun mengganggu persiapan rasulullah, akan tetapi maksud dan tujuannya jelas untuk beriman atau mendapatkan risalah Nabi, maka wajib bagi Nabi untuk melayaninya.

Saat mendengarkan riwayat itu saya membayangkan betapa Rasulullah malu luar biasa ketika Allah secara keras menegurnya. Sesuatu yang dalam pikiran manusia macam saya manusiawi, ternyata beda di pandangan Allah. Ada nilai yang hendak disampaikan oleh Allah kepada saya. Orang buta itu bisa berwujud Anak kita, Istri kita,bapak-ibu,  tetangga kita, sanak keluarga kita atau orang-orang dekat, ataupun siapapun yang barangkali remeh di mata kita. Sementara Qurais itu bisa jadi Boss, relasi bisnis, undangan resmi, atau apapun yang memandang kita dari sisi ke-mumpuni-an kita. Dimanakah prioritas itu ditempatkan?

Namun demikian, sekalipun para nabi, termasuk Rasulullah banyak diantaranya yang mendapat peringatan dari Allah, kedudukan mereka dan kemuliaan mereka tidak pernah berkurang. Mengapa? Karena memang bukan pujian, bukan kedudukan dan bukan harta benda yang membuat mereka mulia. Mereka tidak perlu debat kusir, menutup-nutupi kesalahan, adu argumen, membayar jurkam ataupun melakukan propaganda demi kedudukan mereka. Allah lah yang menaikkan derajat mereka. Maka di mata umatnya, semua kesalahan itu bukan menjadi celaan melainkan menjadi pelajaran bagi siapapun.

Untuk itu, tidak perlu malu bagi siapapun jika memang melakukan kesalahan pada masa lalu dan menceritakannya kepada orang lain tentang kesalahannya itu, bilamana hal tersebut mendatangkan manfaat dan pelajaran bagi semua orang. Lain halnya dengan aib, aib adalah kehinaan yang hanya diceritakan sepanjang untuk pertimbangan hukum dan kemaslahatan.

Semoga kita senantiasa mendapat hidayah dari Allah SWT.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s