Mengenang Hari Jilbab Internasional

Ternyata, kemarin itu hari Jilbab Internasional tho. Saya baru baca di kompas halaman kedua dari belakang, dimana di kota Jogja ini ada demo dan kampanye pembagian 1000 Jilbab. Nggak nyangka aja, kok ada juga hari Jilbab Internasional. Wah, keren.
Meski hanya secarik kain yang dibuat untuk menutupi helai demi helai rambut perempuan, tampaknya banyak kisah dibalik benda bernama jilbab ini. Di berbagai belahan dunia, Jilbab masih menjadi benda yang menakutkan ataupun menimbulkan kecurigaan dengan dalih separatis lah, terorisme lah dan pemojokan lain sebagai sikap phobia terhadap Islam. Bahkan Perancis dan Inggris yang notabene negeri penjunjung tinggi hak asasi manusia masih saja pasang kuda-kuda waspada terhadap penggunaan jilbab. Ada yang melarang seratus persen dan ada pula yang membatasi ruang geraknya di ranah publik.
Kita di Indonesia patut bersyukur bahwa Jilbab sudah menjadi busana yang nggak mengherankan lagi jika dipakai. Bebas, perempuan siapapun yang pakai silah-silahkan saja tanpa paksaan, walaupun dalam catatan Aceh memaksa kepada umat Islam untuk memakainya. Indonesia dan beberapa negara asia tenggara macam malaysia dan Singapura menjadi simbol bahwa di sana orang relatif berjilbab bukan karena dipaksa oleh siapapun kecuali atas kesadarannya dan konsekuensinya sebagai umat Islam.
Hal ini berbeda dengan negara Islam macam Arab Saudi dan timur tengah lainnya. Jilbab bukan saja dipaksakan tetapi juga sebagai simbol pendomestifikasian perempuan ataupun pengekangan perempuan kepada lingkup yang relatif limited. Perempuan tidak bisa bebas berada di ruang-ruang publik dan menempati posisi strategis.Entah karena persoalan pemahaman fikih ataupun politis, wallahualam.
Saya tidak tahu kapan jilbab memasyarakat di Indonesia. Dalam pengalaman saya, saya baru melihat satu-satunya orang berjilbab di SMP 29 pas saya kelas tiga. Itu cuma melihat! Kalau di SMA sih nggak pernah ada yang berjilbab kecuali suster-suster pengajar . Nah, pas perguruan tinggi di UGM itu baru lebih sering ketemu sama temen yang jilbaban. Orang pertama berjilbab yang ngajak saya ngomong namanya Siti Mualifah dari Tuban, Jawa Timur. Wah, jika diungkapkan, saat itu rasanya takuuuuuut banget. Seolah saya berhadapan dengan orang suci dan secure macam suster-suster itu. Sehingga baru beberapa menit saja keringat dingin sudah mengucur. Maklum, sebagai orang yang belum tahu Islam, jangan-jangan nanti ditanya macam-macam perihal Qur’an, Sunah dan lain sebagainya. Lha matik aku!
UGM tercatat pernah membiangi pemasyrakatan jilbab. Saya lupa kapannya, mungkin16 Mei 1987, yang jelas Jamaah Shalahuddin memfasilitasi Emha Ainun Najib beserta Teater Shalahuddin untuk pentas dengan lakon Lautan Jilbab. Sebuah fragmen perlawanan:

“Jilbab adalah keberanian di tengah hari-hari sangat menakutkan.
Jilbab adalah percikan cahaya di tengah-tengah kegelapan.
Jilbab adalah kejujuran di tengah kelicikan.
Jilbab adalah kelembutan di tengah kekasaran dan kebrutalan. Jilbab adalah kebersahajaan di tengah kemunafikan.
Jillbab adalah perlindungan di tengah sergapan-sergapan” .
(Emha Ainun Najib – Lautan Jilbab).

Sekarang, barangkali anomali atas jilbab sebagai busana muslimah mulai nampak. Sudah bukan hal baru jika jilbab pada masa sekarang tidak lagi menunjukkan akhlak mulia pemakainya. Itu yang menjadi titik perlawanan dan alasan perempuan yang belum mengenakan jilbab. Walaupun jika ditelusur lebih lanjut, berjilbab itu kewajiban, bukan sekadar pamer akhlak.
Pada waktu penulisan skripsi, salah satu diantaranya saya mengupas tentang jilbab. Jilbab perempuan bisa menunjukkan identitas dari golongan manakah dia berasal: salafy, tarbiyah, HT, muhammadiyah ataukah Nahdliyin, syiah dan lain sebagainya, atau kelompok muslimah pop. Dosen pembimbing saya protes: “Kau harus adil. Dalam skripsimu ini kupasan identitas fisik yang lebih menonjol adalah perempuan dengan jilbabnya. Semestinya kamu juga kupas dong persoalan identitas fisik yang laki-laki juga. Kalau tidak, kamu akan terjebak pada persoalan gender yang cenderung mendiskreditkan perempuan sebagai objek penulisan skripsimu. Hei, memangnya identitas keislaman kaum lelaki itu apa?
Waduh, bingung juga saya menjawabnya. Tetapi daripada nggak goal, saya jawab saja sekenanya, menatap wajah Bapak Dosen dan berlagak polos:”Celanan congkrang dan jenggot.., Pak..(Am I right?)”
Untuk yang sudah menikah, jilbab juga bisa dimasukkan sebagai indikator perhatian lelaki kepada istrinya. Pada persoalan kepantasan, perempuan paling sulit melakukan matching pilihan kepada suatu jilbab. Variabel yang dipertimbangkan banyak: warna, desain, pernik, harga, matching tidaknya dengan baju yang rata-rata dimiliki, kemudahan pemakaian, bahan yang digunakan, ukuran, detil, jahitan dan kemudian dicoba: sesuai atau tidak dengan bentuk wajah dan riasan, tambah cantik atau tambah tembem dll. Makanya saya sering nyerah kalau ngantar istri cari jilbab. Bisa 15 tempat nggak ketemu dan pulang dengan tangan kosong.

Pernah suatu ketika saya diminta untuk beli jilbab model tertentu di Jalan Kaliurang oleh Istriku sayang berdasarkan referensi adiknya. Saya minta seorang sahabat saya mengantar saya cari dan masuk ke toko ybs. Sungguh suatu pengalaman yang menggelikan. Ternyata meski model dan warnanya sudah sesuai dengan yang dibayangkan, masuk toko dan mencari benda yang dimaksud bukan hal yang mudah. Begitu buka pintu, berpasang mata melihat dan menelanjangi kami berdua yang notabene laki-laki. Kemudian meringsek diantara sekian tubuh berjilbab untuk kemudian ikut memilih-milih satu diantara sekian tumpukan jilbab tentunya bukan pemandangan yang biasa. Sama tidak biasanya dengan perempuan lain yang ingin mencoba jilbab tetapi malu karena melihat kami. Itu baru satu toko (karena gak ketemu benda yang dimaksud). Di toko lain ternyata lebih sial. Tidak ada orang lain yang beli dan hanya ada dua penjaga perempuan yang wajahnya cantik banget. Hanya saja melihat kami datang wajah mereka bukannya bersikap ramah tapi malah menatap curiga. Daripada deg-degan saya ngomong sama mereka:”Euhm. ..maaf Mbak, saya kira jual koko. Ternyata saya salah masuk..” Dan kemudian ngeloyor pergi.
Salam buat perempuan yang memakai jilbab seantero jagad. Dunia menjadi indah dan Islami karena Anda. Selamat hari Jilbab sedunia. (*)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s