Malu, Penyakit Sulit Baca Al-Qur’an

Salah satu kebiasaan saya paling sulit adalah membaca Al-Qur’an. Mungkin karena kebiasaan yang selalu tertancap di ubun-ubun yang selalu mengatakan bahwa melakukan sesuatu itu mesti ngerti apa tujuannya, maka bagi saya membaca Qur’an tidak menjadi sesuatu yang sifatnya konsumtif. Otak sadar saya mengatakan bahwa:”Ngapain susah-susah mbaca Qur’an kalau kita tidak tau artinya?”

Suatu saat pertanyaan itu saya tanyakan kepada salah seorang ibu-ibu pada waktu pengajian tadarusan di  kampung. Jawabannya bikin saya iri: “Bagi saya, membaca Qur’an itu seperti halnya makan. Ada sesuatu yang menentramkan dan menyejukkan hati saat saya membaca Qur’an. Maka, kalo nggak sehari saja mbaca kok rasanya ada yang kurang. Ya kalau ditanya saya nggak tau artinya apa. Tetapi ketenangan batin ini tidak bisa digambarkan manakala tidak membaca Al-Qur’an.”

Saya tahu ibu itu menjawab dengan kesadaran dan tidak dengan keterpaksaan ataupun motif politis (hehe…..pokoknya kalau agama sudah bau politik, jauh-jauh deh….seperti mencium kentut aja.).Dilihat dari strata sosialnya dia bukan golongan orang berpangkat, kaya ataupun punya pamrih. Dilihat dari tingkat pendidikan, dia juga bukan golongan berpendidikan tinggi. Disanalah saya melihat totalitas dia dalam beragama.

Saya ingat betul, pertama kali belajar membaca Qur’an itu pas di Jamaah Shalahuddin. Diajari oleh Joko, Rifai, dan teman-teman lain di HMI. Sebelum itu gak pernah tau apa itu alief, ba, ta dll. Harap maklum lah, pas sekolah di SMA Katholik dulu boro-boro baca Qur’an, sholat aja enggak.

Sejak SMA sih aku agamanya Islam. Jangan ragukan itu! Tetapi kalau menjalankan syariat kayaknya nggak deh. Orang di Semarang dulu juga gak terlalu hidup tu namanya pengajian, TPA atau sejenisnya. Pas ketrima di SMA Katolik juga mikirnya ya bukan masalah agama, tapi apakah sekolahku itu sekolah yang berkualitas apa nggak. Nah, jadi nggak salah saya milih sekolah SMA Katolik. Karena di Semarang, sekolah paling disiplin, paling favorit dan paling menjamin anak didiknya ya sekolahku itu, gak perduli bayarnya mahal apa nggak.

Seperti halnya Nurul F. Huda mengutip kisah saya di bukunya pertama, saya paling senang menunjukkan identitas keislaman saya dengan memakai kalung bergambar kaligrafi Allah. Sebuah kalung yang senantiasa mengingatkan bahwa di SMP dulu saya pernah bergabung dengan gank bernama Soleh Boys(Walaupun kegemarannya ya gelut, berantem dan tawuran). Nggak terbayang deh betapa bangganya jadi seorang muslim di tengah komunitas non muslim! Maka, bulan Ramadhan seperti ini menjadi sesuatu yang paling menjadi tumpuan saya untuk menghapus semua dosa gara-gara tidak sholat dan tidak jumatan, saat itu.

Suatu hari, tepatnya suatu malam pada saat kelas 2 SMA, saya pernah berdoa. Sebuah peristiwa yang saya hafal betul dan saya berucap: “Tuhan, jika memang Islam menjadi agamaku, maka tunjukkan kepadaku jalan itu.” Maka , kedatangan saya ke Jogja, barangkali, adalah jawaban Allah akan doa itu. Lalu,  saya habiskan untuk mencari sebanyak-banyaknya tentang Islam mulai dari yang fundamental, tradisional, moderat, ortodoks, kanan, kiri bahkan postmodernis. Dari JMF dan kemudian di JS lah saya memulai itu. Tepat di JS pas lagi demen-demennya belajar Al-Quran, mulai dari alief ba ta sampai dengan langsung Qur’annya. Gak perduli mau makhraj ataupun maad nya gak tepat. Mikir terlalu sempurna malah nanti gak jalan-jalan belajarnya. Kadang, bisa satu hari satu juz saya coba baca. Hanya dalam tempo 6 bulan sesudah tahap serius itu, kemudian mulai mencoba menjadi guru TPA Al-Hidayah di Kentungan. Hasilnya, gak sampai 1 tahun naik jadi rektor TPA.

Mulailah setelah itu saya mencoba merunut lebih jauh tentang tafsir dan pemaknaan tiap-tiap ayat. Waduh….ternyata jauh lebih susah memahami ayat daripada membacanya.Entah ya, apa memang dibikin susah apa ya ilmu tafsir itu? Baru buka satu buku tafsir Al-Azhar saja udah begitu pusingnya. Bagaimana dengan tafsir yang lain?

Eh..lama-lama jenuh juga.

Sekarang aja, ketika anak mulai besar baru saya mencoba lagi belajar bersama anak-anak untuk bisa memahami ayat demi ayat. Iyan, yang besar insya Allah sudah hafal seluruh huruf Hijaiyah dan mulai melangkah ke tanda baca fathah, dhommah dan kasroh. Yang kecil udah mulati hafal huruf nun sama jim. Bedanya, kalau saya dulu belajar pakai Iqro’, kalau anak-anak belajar dengan Baqmi (Belajar Al-Qur’an Metode Interaktif), sebuah software flash yang membantu anak-anak memahami huruf per huruf hijaiyah sampai dengan tingkat lanjut. Malu dong jadi bapak kalau gak bisa jadi tauladan buat anaknya: hehe….ego seorang ayah mulai keluar. Doakan saya ya…(*)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s