Catatan tentang Politik, Petani dan Jagung

Kenapa sih saya sering dihadapkan pada kondisi skak mat: kamu pilih partai X saja, meskipun buruk, itu yang terbaik. Kamu pilih ikut pemilu saja, coblos saja, jika tidak maka penguasanya nanti tidak jelas pertanggungjawabann ya sama negara. Kamu harus bermahdzab, jika tidak, Islam model manakah yang hendak kamu anut?Kamu ikut aja organisasi Islam, seburuk-buruknya ormas Islam, itu jauh lebih terjamin keislamannya daripada ormas lainnya. Kamu harus liqo, kalau gak liqo gak terjamin hidupmu.Maka hidup seperti didekte oleh pertanyaan tertutup.

Beberapa waktu lalu mertua saya panen tembakau. Bukan panen sendiri, sih. Kebetulan aja punya beberapa bidang tanah dan diserahkan ke tetangga sekitar untuk mengelolanya. Berbeda dengan orang lain yang senantiasa mengontrol ataupun menghitung-hitung keuntungan yang ada jika suatu saat nanti panen atau menghasilkan, mertuaku cenderung membebaskan apa mau tetangga untuk mengelolanya dan dianggap sebagai amalan saja. Terserah mau dikasih berapa dari tetangga penggarapnya. Termasuk dari pertanian tembakau pada enam bulan ini. Sebelumnya kadang beras, chesim (untuk bakso). kacang panjang, bayam dan lain sebagainya.

Yang memelihara atau menggarap,adalah pasang bapak-ibu yang usianya lansia. Jelas bahwa sudah turun temurun mereka menjadi penggarap tanah Bapak-Ibu Mertuaku.Hanya saja tampaknya nasib tidak membuat mereka menjadi memiliki tanah sendiri ataupun peningkatan kesejahteraan. Mengapa….. (bukan diperlakukan sebagai kata tanya)
Ketika tanya-tanya, ternyata dari hasil panen tembakau itu selama enam bulan terkumpul keuntungan 600.000 dan dibagi untuk mertua fifty-fifty: 300.000-300. 000. Bayangkan!
Ini yang saya tidak habis pikir. Jika 6 bulan sepasang suami istri tua itu dapat untung 300.000, maka per bulan mereka hanya bergaji 50.000 dan itu dibagi 2 orang yang berarti per orang dalam sebulan hanya ber gaji: 25.000. Masya Allah…..Dan untuk itulah terkadang mertuaku membantu dengan sesuatu yang sekiranya bisa menutup kehidupan mereka. Bisa jadi yang tadinya fifty-fifty menjadi 100%-0.

Jauh dari hiruk pikuk itu semua terkadang saya masih teringat masa 1997 dimana kami masih turun ke jalan teriak-teriak turunkan Suharto (Alm) demi menjawab perbaikan nasib bangsa yang ternyata sampai kini tidak menjadi lebih baik kecuali dalam kehidupan politik berbangsa yang relatif lebih terbuka. Hanya saja keterbukaan politik di masa kini seringkali diiringi oleh pemandangan memuakkan manakala teman-teman kami yang dulu pernah ditindas, diculik dan disakiti untuk kemudian ditolong Almarhum Munir, eh, sekarang malah bergandengan tangan mesra dengan jendral yang dulu menyakitinya dalam sebuah partai yang nadanya demi…demi. ..demi… dan demi.

Dan, menjelang parade pencoblosan ini kedua orang tua penggarap lahan mertuaku tadi bersama dengan sekian juta petani akan ramai-ramai didatangi oleh pahlawan-pahlawan kesiangan yang mengumbar janji dan membawa bingkisan menarik menawarkan perubahan baru demi nasib mereka. Dan semua bernada sama: pilihlah aku jika ingin anda sejahtera.

Layaknya dagangan, partai dijajakan di kanan kiri jalan dalam bentuk iklan, spanduk, baliho situs, bahkan friendster. Beberapa diantara mereka adalah artis, beberapa lainnya adalah gudang buih ludah yang mulutnya beramunisi, siap ngomong dan adu kepala jika di TV ada adu debat. Hebat !! Tetapi toh sehebat-hebatnya mereka, kami kenal baik caleg-caleg yang ternyata itu-itu juga yang dipastikan tidak membawa perubahan bagi masyarakat di sini. Saya yakin 100% bahwa mereka toh sudah menyiapkan pidato penyesalan manakala janji mereka tidak terwujud.

Cerita tentang petani indonesia bisa digambarkan dengan keterkejutan atas sebuah kejadian manakala ada laporan dari salah seorang teman, petani yang mencoba menawarkan hasil pertanian organiknya ke supermarket. Belum sempat masuk supermarket dia dibikin bengong atas sebuah bungkusan jagung segar dari Cina, jagung gurih yang dibandrol dengan harga Rp 6000. Ini gila, Cina bisa ekspor jagung segede itu dengan bandrol 6000 masuk supermarket dalam kondisi segar. Bukan itu saja, istimewanya, di sana sudah ada microwave dan berbagai bumbu siap untuk membuat jagung impor itu siap dimakan! Konon dari info pemilik supermarket, jagung itu bisa laku 400 sampai 600 tongkol sehari. Persetan dengan Cina yang memang mampu untuk jual murah ke negeri ini. Pertanyaanya adalah: kok nggak ngomong sama petani Indonesia bahwa yang beginian bisa laku di supermarket? Kok malah impor dan menguntungkan negara lain?Jawabannya barangkali juga tidak begitu mengejutkan: karena keran impor yang beginian ada dan petani indonesia kebanyakan menanam jagung untuk konsumsi ternak macam ayam dan unggas lainnya.

Cerita ini barangkali akan lain yang terjadi di gorontalo dimana jagung bisa dikembangkan oleh Gubernurnya, Fadel Muhammad yang berhasil mengembangkan jagung dengan orientasi ekspor dan membuat PAD naik dan petani sejahtera.Saya yakin bahwa diantara anda punya banyak cerita tentang yang ini.

Pertanyaan paling menyedihkan dari semua ini adalah pertanyaan tolol: lalu apa yang bisa saya lakukan. Sebagai orang yang lulus dari universitas dan pernah merasakan subsidi dari para petani itu, saya merasa rendah karena belum memberikan sesuatu yang berguna bagi mereka, kecuali membantu Oom saya yang kebetulan menjadi PPL di Bantul dengan membuatkan beberapa alat peraga ataupun simulasi yang digunakan untuk penyuluhan tentang PHT: Penyakit dan Hama Tanaman. Dari sanalah saya sinau bareng sama petani untuk mudeng tentang banyak hal kaitannya dengan pertanian. Inilah masanya saya sinau bareng sama petani. Saling curhat dan berbagi.

Sinau bareng….barangkal i istilah yang baik untuk menunjukkan adanya kesetaraan diantara kami. Di lain tempat, saya juga senang mengadakan ngaji bareng. Ngaji bareng itu ya diantara kami saling berbagi tenang satu dan lain hal kaitannya dengan agama. Bukankah di jaman sekarang ini kalau mengundang orang atau mengundang murobbi lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya? Kalau tidak politik ya pasti mbayar. Sementara dengan ngaji bareng kami bisa sama-sama melengkapi. Masalah sempurna atau tidak…ah.. .nantilah. Lebih eneg mendengarkan orang yang menggurui, sok kiai dan sok alim daripada kami menemukan sendiri jawaban atas pertanyaan kami. Ngaji mandiri.(*)

Feriawan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s