Susah Banget Ngerti Rasulullah

Ramadhan yaa.

Saya mau curhat nih. Sejujurnya hal yang paling susah untuk saya lakukan
adalah memahami tentang Rasulullah. Padahal kalo diurutkan dalam
kerangka prioritas manusia yang ngakunya berislam, itu jelas yang nomer
satu yang harus dipahami. Tapi..ampuuun susahnya.

Sebelumnya minta maaf, dengan segenap disclaimer, isi tulisan ini bukan untuk
dijadikan kutipan ataupun diikuti oleh siapapun. Tulisan ini hanya
bersifat sharing dan berbagi. Jadi kalau ada yang menjadikan referensi
ataupun kutipan si gpp, tapi ya resiko tanggung sendiri.

Bukannya saya orang yang malas untuk mengaji atau malas bara Siroh nabawi. Tapi
tentu saja menghadirkan sosok rasulullah untuk seolah-olah hadir dan
menjadi fragmen ataupun film yang bisa terekam segala sesuatunya itu
gak mudah. Seluruh Siroh yang pernah saya pelajari tidak lebih dari
buku-buku ilmiah ataupun buku-buku agama yang membosankan dan garing
banget. Seolah-olah kita diajak ke sebuah dunia alien ataupun dunia
ilmiah yang justru menghadirkan sosok rasul yang dideskripsikan nggak
ngena banget dengan gambaran manusia yang selalu dekat sama kaumnya.
Entah karena gaya penulisannya yang mesti memenuhi kaidah kaidah ilmiah
ataupun kaidah-kaidah penulisan islami yang kemudian blind, terpisah
segala-galanya dari sisi emosi, harapan dan rasa ingin tahu saya
sebagai manusia yang membutuhkan sosok rasulullah. Tetapi justru
menghadikan kuliah yang boring dan eneg. Rasanya, membaca Siroh menjadi
beban dan bukan menjadi kebutuhan, apalagi kerinduan untuk
mengulang-ulang bacaan itu.

Dalam pemahaman saya, semestinya orang yang kangen atau gandrung sama Rasul,
tentulah bisa dengan detil melihat dan mengimajinasikan. .oh, inilah
rasulullah di jaman itu, yang begini..begini. .begini. Sebuah fragmen,
kejadian ataupun layaknya sinetron atawa film yang secara gamblang bisa
melukiskan tatkala rasulullah lagi jalan, lagi ditanyai temen-temennya,
lagi sendu atau lagi boring, apapun lah. Tapi yakin deh, usaha untuk
menjadikan Siroh sebagai pijakan dalam kerangka pengimajinasian yang
tidak sekedar imajinasi tentunya susah. Bagaimana bahwa yang kita
pikirkan tentang rasulullah itu bukan sekadar ngoyoworo ataupun
ngelindur tentunya susah. Kenapa? Ya, karena kita seolah berhadapan
dengan puzzle yang terkendala dengan bahasa, aturan, kaidah dan sekian
atribut-artibut yang bikin saya seolah dikasih jarak untuk boleh deket
sama tokoh yang  namanya  Rasulullah. Makannya, salut deh sama orang
yang bisa "menghadirkan’ sosok Rasulullah dihadapannya dan seolah-olah
sedang bekonsultasi dengan Rasulullah.

Lewat beberapa pengalaman, jujur saja, saya dibikin eneg sama orang-orang
yang sok suci, sok soleh atau sok nyunnah yang dikit-dikit ngomong:
Rasullullah bersabda..bla- bla…blaaa. ….Kata rasul..bla-bla.
.beuh…Rasanya mau muntah. Bukan apa-apa sih. saya seolah berhadapan
dengan alien ataupun manusia yang, god..forgive me, kehilangan
kemanusiaanya gitu loh. Kayak robot. Gak punya jiwa dan seolah membuat
rule atau aturan yang terdoktrin di kepala dan dikit-dikit doktrin,
dikit-dikit doktrin. Emang agama diciptkan  buat gitu pa ya? Yang
terjadi bukannya saya jadi deket sama agama, sama Rasul, justru
sebaliknya. Berjarak dan kehilangan diri saya. Seolah memaksakan diri
saya untuk memakai topeng ataupun kedok yang sok suci, sok alim dan
membohongi bahwa sebagai manusia itu saya punya jiwa-jiwa yang mesti
dimaksimalkan dan diotimalkan dan dihargai. Bukannya disunat atau
dikebiri.

Kecelakaan paling mengerikan dalam sejarah kemanusiaan adalah ketika kita sudah
menipu diri, tidak jujur kepada diri kita sendiri dan membunuh
kemanusiaan kita. Membungkam semua pertanyaan dan kemudian melangkah di
dunia ini seolah – olah dunia adalah sesuatu yang harus dibenci dan
dihindari, untuk kemudian membuat seribu benteng serta pasang mode
wajah: "waspada!! kamu harus patuh sama rule agama, harus paham sunah,
harus…harus. ..harus.. .harus!!" . Kalau sama diri sendiri saja saya
sudah tidak jujur, bagaimana saya bisa jujur sama Allah, kalau sama
Allah saja saya tidak bisa jujur, bagaimana sama Rasul? dan kalau sudah
sama Allah dan Rasul saya sudah tidak jujur, bagaimana dengan
masyarakat, hidup dan pertanggungjawaban kehidupan saya ketika mati
kelak? Apa iya ketika saya ketemu Allah besok saya mo bilang: "Allah,
aku dah melaksanakan semua yang kau perintahkan dan menjauhi semua yang
kau larang, tetapi aku tetap tidak tau, untuk apa aku diciptakan, aku
juga tidak mengenal rasul kecuali dari apa yang dia perintahkan dan apa
yang dia larang.." Ih, maluuuuuuu deh, sudah baek-baek Allah kasi kita
kehidupan ujung-ujungnya cuma jadi malaekat hidup.Bukannya kita
diciptakan untuk beribadah pada Nya? dan beribadah yang baik itu adalah
yang jujur dan ngerti bener tentang dia? Kalau udah takut dan tidak
jujur kalau kita gak mudeng, mana bisa ngerti? Ntar kayak anak SD yang
taunya hanya duduk, dengar, diam dan gak boleh aktif. Bukannya Allah
suka dengan hambanya yang aktif?

Saya malah menduga, kadang-kadang orang menjadi sok suci, sok alim atau
menjadi sosok pendeta ataupun rahib, sebenarnya bukannya menemukan
kemanusiaannya tetapi justru manusia paling merugi di bumi. Mereka
terlanjur terdidik, terkungkung dalam doktrin dan agama warisan
sehingga menjadi manusia statis. Padahal, dunia ini dinamis. Dalam
sejarah, tidak ada yang namanya agama pernah tegak di atas orang-orang
yang statis, Islam, Kristen, Hindu dan Budha itu lahir dari dinamika
founding father dan juta jawaban atas permasalahan jaman. Jawaban itu
konkrit diletakkan pada output dan outcame. Maka kalo ada kyai atau
rahib yang dungu, akan selalu berkata: ummat ini kacau karena mereka
tidak melaksanakan nilai-nilai ke Islaman atau ke agamaan. Kalimat itu
bukannya salah, tetapi juga absurb. Memangnya agama itu apa sehingga
bisa menjawab permasalahan umat? Bukankah Islam itu bukan semata Qur’an
dan Sunnah, tetapi juga inovasi dan kreasi atas penggalian seluruh alam
yang disajikan secara gurih untuk dimakan oleh manusia bak kacang
goreng?Lha lucu kalau orang yang kacau hidupnya disalahkan karena tidak
tau agama. Kenapa? ya sama saja orang cacat kaki disalahkan ketika
jalannya pincang.

Nah, apa akibatnya jika saya memaksakan diri untuk kenal sama rasul dengan
cara manusia suci itu? Ini gila!!! Masak saya mau kenal rasul mesti
dalam kondisi suci? Masak mau kenal rasul saya mesti bersih dulu? Masak
mau akrab sama rasul saya mesti aliiiim dulu? Bukannya rasul tu lahir
untuk jadi tukang bersih-bersih? Bukannya rasul itu siap dengan segala
kondisi umatnya untuk kemudian diakrabi dan diarahkan? Nah kalau Rasul
taunya minta bersih, buat apa jadi Rasul?

Kalo nurut saya kok enggak. Rasul itu dalam
beberapa info saya orangnya teduh. Dia tidak mengedepankan aturan. Dia
memberi solusi konkrit. Dia adalah pribadi yang agung dan bisa akrab dengan siapapun: orang kaya,
orang miskin, orang sakit, orang cacat, orang baduy yang kencing di
masjid, orang yang menghina dia, orang gila bahkan. Maka absolutly
wrong jika rasul itu minta syarat banyak-banyak manakala kita mau
gabung sama pengajiannya.

Makannya kalau denger dikit kisah rasul pas disambut sama penduduk madinah dan
menyanyikan lagu; Tolaal Badru Alaika, waduh, pasti deh air mata ini
meleleh. Paling nggak saya ngerti bahwa beliau itu orang paling
menyenangkan di muka bumi, Hadir untuk membawa keteduhan dan harapan
serta jalan kebaikan. Bukannya ketakutan ataupun pikiran-pikiran yang
membawa kebohongan hati. Dan itulah yang paling saya ingat manakala ada
bulan purnama. Subhanallah.

Saya bayangkan Rasul itu setiap bahasa tubuhnya, gerak geriknya, perilakunya, tutur katanya, pokoknya
semua-muanya gak ada yang meragukan. Gak tergambar bahwa rasul adalah
sosok yang berjarak, pasang kata "waspada" dan juga anti untuk gaul
dengan umat manapun. Jadi bukan hanya bahwa dia bisa dipercaya, tetapi
semua yang dilakukannya, bahasa tubuh, gerakannya tidak ada yang
meragukan orang !!! Nah, inilah rasul.

Kadang keingin tahuan saya bertambah berkaitan dengan bayangan: memangnya
kalau saya tidak tau bahasa arab, tidak kenal pesantren dan tidak bisa
baca Qur’an lancar ini tidak bakal menemukan pribadi rasulullah,
apalagi menemukan Allah….Iyakah? Dalam beberapa kajian saya dimanapun
sering saya katakan bahwa cara beragama saya liar: tidak sistematis dan
tidak terprogram dari seorang kyai, dari sekolah madrasah, dari kitab
yang berjilid-jilid apalagi dari pengetahuan bahasa layaknya didapat
dari Ulama Kaliber. Saya mendapatkan Islam dari diskusi dengan tukang
sampah, dari dialog dengan orang gila, dari kata-kata embah yang di
pasar, dari marahnya ibu dan bapak saya, dari sesuatu yang tidak pernah
terduga tetapi langsung menusuk ke hati saya dan memberikan pencerahan.
Dari sanalah petunjuk Allah saya rasakan dan gambaran tentang
rasulullah terkadang terbentuk dengan sendirinya.

Sudah bukan sekali dua kali, tetapi ketika saya mendekati sebuah jamaah yang
berisi orang-orang suci yang terjadi mereka lari dan menjauh. Atau
malah yang saya lihat bukannya mendapatkan pencerahan tetapi politik
dan kekuasaan, Atau bukannya keteduhan tetapi malah keangkeran. Saya
hanya menjadikan masjid sebagai tempat sholat dan bukannya tempat
berjamaah. Dan jamaah saya adalah Pak Lanjar bakul tape, Pak RT, Bu
Paijah dan beberapa manusia lain yang mengajarkan kepada saya bagaimana
melihat hidup dan bagaimana baik-baik sama Allah. Dari sana saya tau
apa itu bahagia.

Beberapa teman menanyakan: memangnya kamu tidak tau jika nantinya kamu terjebak dengan perilaku bid’ah, menyimpang atau
bahkan lari dari agama. Saya tidak bisa membantah itu, tetapi juga
tidak kemudian surut. Bagi saya, Allah adalah Entitas yang Maha Tahu
dan tidak Pasif. Allah tidak sedang bersembunyi di balik langit ataupun
Di benak manusia. Dia adalah Nyata senyata-nyatanya dzat yang bisa
berkomunikasi dengan saya. Dan dia Maha Tahu dengan apa yang saya
lakukan. Nah, kalau dia Maha Tahu, masak iya sih kalau dia tega
membiarkan hambanya ini yang sudah niat tulus mau mencari jalannya
kemudian dia nutup diri dan membiarkan hambanya sesat? Mengapa ragu
kepada Ke Maha Tahu An Allah? Allah, kau Tahu yang kumau!

Sudah banyak peristiwa yang menunjukkan bahwa ke-kangen-an Allah kepada saya
melebihi ke-kangen-an saya kepada-Nya. Semisal pas saya malas untuk
sholat Isya dan kemudian ngomong dalam hati. "Allah, ngantuk nih, kalau
memang Engkau mo saya sholat, ntar bangunin yaa." Eh..pas tengah malam
malah bisa bangun dan gak bisa tidur lagi. Nah, ya walaupun saya cuma
sholat Isya dan dikasih dikit-dikit sholat sunah lah, dan bukannya
kayak Rasul yang menghabiskan seluruhnya untuk sholat malam, paling
tidak itu membuktikan bahwa saya di-hamba-kan oleh Allah dan gak
dicuekin. Ntar kalau dicuekin Allah, lha modiar aku.

Saya masih berjarak dengan Rasulullah karena memang kendala bahasa, kendala
pemahaman dan pengetahuan menjadikan saya tidak bisa kenal banget sama
yang namanya Rasulullah untuk dijadikan kekasih. Semoga suatu hari
nanti, saya benar-benar menemukan arti persahabatan sama kamu ya Rasul.
Amin.

Borobudur, 31 Agustus 2008
Feriawan A,N.

      
     

   
   

__._,_.___

4 thoughts on “Susah Banget Ngerti Rasulullah”

  1. salam…
    biar tambah mumet ta’ tambahi yo….
    apa latar belakang, hikmah, rahasia, masksud…
    saat kita duduk untuk tasyahud akhir, harus terucap…

    “assalamu ‘alaika ayyuhan Nabi, warahmatullah wabarokatuh”

    salam “KEPADAMU” wahai Nabi.. etc ????????
    emang kita sholat itu bermunajat kepada siapa?
    ada apa ini ???

    alasan untuk ini smua, kita yakini pasti ada.
    tapi bukan hanya alasan2 logis yang
    kita butuhkan sekarang, apalagi untuk menjadi
    kekasih beliau…. sebab cinta itu ga logis.
    Mungkin ada tips bagus;
    perbanyak sholawat… berdendang lagu2 sholawatan…etc.
    kata tetangga ; witing tresno jalaran soko kulino..
    atau basa wahyunya ;
    “wa’bud rabbaka hatta ya’tiyakal yaqin”
    (nyang penteng ente ibadah, biar si yaqin nyang dateng sendiri ke ente)
    nuwun

  2. Kelihatannya anda hanya butuh orang yang tepat saja untuk menyampaikan islam yang kaffah kedalam hati anda. Pesan saya kalau anda kurang suka terhadap orang lain yang kebetulan beragama islam jangan sampai anda malah jadi anti terhadap islam. Semoga alloh swt menunjukkan anda jalan yang lurus, bukan jalan orang-orang yg dimurkai alloh swt dan bukan pula jalan orang-orang yang sesat.

  3. Gue: Terima kasih atas doanya. Anda mengirim surat/comment dengan nada berbeda. Yang nadanya kasar saya kira bukan bahasa muslim yang baik, jadi maaf saya sortir. Datanglah sebagai seorang sahabat seiman, anda tidak berada di sarang musuh, kan?

  4. Saya salut dengan usaha saudara yang berusaha sedemikian keras memahami eksistensi Rasulullah.
    Memang persoalan “memahami” bukanlah persoalan yang mudah dipecahkan, meskipun juga tak elok rasanya disudahi dengan keputus-asaan.
    Menurut saya, “memahami” berangkat dari ketidak-tahuan yang bertumpu pada Poros Keingin-tahuan.
    Tentu banyak barikade yang akan menghadang proses “memahami”. Salah satu barikade yang begitu gemar menghalangi langkah adalah alam pikiran kita. Alam pikiran kita selalu mendorong-dorong bahkan seringkali membopong kita dalam peribahasa melayu, “Mengukur baju orang lain, dengan ukuran baju kita sendiri”. Atau “Seperti katak dalam tempurung”.
    Untuk membabat habis alam pikiran itu, salah satu resepnya adalah melakukan penerimaan terhadap segala hal yang saudara anggap bersahabat dengan alien atau mencoba lebur ke dalam “komunitas arabiyah”.
    Jika memang hal ini tak mungkin dilakukan, marilah tetap berdo’a memohon petunjuk kepada Yang Maha Pemberi Petunjuk dan berikhtiar dengan jalan yang sesuai dengan kehendak saudara.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s