IMPOSSIBLE DREAM: Impian perempuan untuk sejajar dengan lelaki

referensi film: http://www.youtube.com/watch?v=akfZuX4l-8k

Pengantar
Ketika saya sedang iseng surfing di Youtube untuk mencari kartun, ada yang membuat saya berhenti sejenak. Sebuah film kartun berdurasi pendek berjudul The Imposible Dream menyadarkan sesuatu di dalam konstruk berpikir saya bahwa ternyata perempuan itu adalah wanita kuat dan ternyata selama ini dalam beberapa hal saya telah berdosa kepada istri saya khususnya dan kepada setiap wanita di muka bumi ini.

Filmnya sendiri tampaknya dibuat sudah lama dan buram. Mungkin sebelumnya transfer dari video VHS. Tetapi keburaman film itu tidak menghalangi makna yang hendak disampaikannya.

Begini sinopsisnya:

IMPOSSIBLE DREAM
(Impian yang tak mungkin terwujud)

Ketika hari dimulai

Suatu hari menjelang fajar, dimana weker sudah mulai berbunyi dan lampu-lampu kamar mulai dinyalakan. Adalah sebuah keluarga dengan tiga orang anak. Si sulung laki-laki usia belasan dengan anak perempuan yang mungkin selisih setahun, dan seorang adik bayi mereka.

Sang ibu sudah mulai mobat-mabit mematikan bel dan mulai pekerjaan dimana saat yang bersamaan suami masih terkantuk-kantuk di ranjang. Sibuknya sang Ibu: menyiapkan peralatan sekolah anak, membuat sarapan, mengganti popok si bayi dibantu sama anak perempuannya dengan menata meja makan. Perilaku anak laki-laki hampir sama dengan bapaknya, atau lebih tepatnya mencontoh bapaknya dengan bermalas-malasan sehingga ketika menyiapkan sepatu sekolah saja mesti dipakaikan saudara perempuannya.
Ketika sang bayi diasuh Bapak sementara ibu memasak, si bayi buang air besar. Dengan wajah setengah kesal si Bapak mengangkat bayi dan menyerahkan ke Ibu untuk diurus: didudukkan di pispot dan kemudian saudara perempuannya menceboki serta memberi pampers.

Ternyata sang Bapak tidak sabar dan mengetuk-ketuk piring yang kemudian dicontoh oleh si anak lelaki. Ibu datang dengan makanan dan menghidangkan ke meja. Semuanya makan dan di tengah makan ibu sembari bertugas menyuapi si kecil. Tatkala si kecil nakal dan menumpahkan makan, lagi-lagi si Ibu yang sabar harus membersihkannya.

Selesai makan si Ibu masih sibuk dengan menyiapkan bekal untuk Bapak bekerja, membereskan piring di meja makan dan mempersiapkan kebutuhan diri sendiri.

Pekerjaan

Bapak pergi ke tempat kerja. Dia adalah operator traktor di sebuah proyek. Ibu adalah buruh pabrik konveksi. Digambarkan sang Ibu harus naik bis kota yang berdesakan dengan membawa bayi dan kebutuhannya. Dekat tempat kerja sang Ibu menitipkannya bayi ke pengasuh anak dan memulai pekerjaan.

Apa yang ayah lakukan? Dia bekerja relatif nyaman karena dibantu oleh mesin-mesin kerja yang hanya bisa dilakukan oleh laki-laki dengan mudah, bukan oleh mesin yang unisex. (Nggak tau kenapa ya..beberapa mesin kerja ternyata tidak memperhatikan perempuan ataupun persoalan gender). Dengan begitu, di tengah menjalankan pekerjaannya ini sang Bapak masih bisa suit-suit sama gadis cantik yang kebetulan lewat.

Di bagian lain, sang ibu sebagai buruh yang ada di pabrik konveksi yang dituntut untuk kerja cepat..cepat..cepat demi target perusahaan. Dibentak, ditakut-takuti oleh mandor. Sementara mesin jahit itu kecepatannya murni mengandalkan tenaga sang ibu.

Saat hari usai, tibalah waktu penerimaan upah. Apa yang terjadi? Ternyata sang Ayah menerima dua koin dan sang ibu hanya terima satu koin.

Waktu Kerja Usai

Saat kerja selesai, sang Bapak masih sempat minum-minum, ngegosip, dan ngobrol dengan teman-teman buruhnya dan tidak menganggap bahwa pulang cepat adalah bagian dari tugasnya sebagai kepala rumah tangga. Pada waktu yang sama, sang ibu mampir ke toko untuk berbelanja kebutuhan. Berlarian dari satu toko ke toko lain demi memenuhi semua kebutuhan keluarga supaya tidak ada yang terlewat. Tidak lupa menjemput anak di penitipan anak dan kemudian kembali antri bis kota untuk sampai ke rumah.

Senja di Rumah

Sesampai di rumah adakah istirahat sang ibu? Ternyata tidak. Ayah melepas baju dan kemudian duduk menantikan makan di depan televisi sementara ibu lagi-lagi menyiapkan makan malam untuk keluarga. Si anak laki-laki melempar sepatu dan tasnya begitu saja di ruangan dan ikut duduk bersama ayahnya.

Anak perempuan membantu ibu belajar memasak, menyiapkan meja makan dan mengasuh adik.
Ibu makan dengan cepat sambil mengasuh adik. Setelah selesai ibu mencuci perabor dapur yang kotor dan juga mencuci baju keluarga untuk kemudian menjemurnya. Jangan lupa, dia juga mesti mengentas baju-baju yang sudah kering. Lagi-lagi dibantu anak perempuannya.

Di depan televisi yang menawarkan hiburan nyanyian sang Ayah masih menikmati santainya, ditemani anak laki-lakinya. Si ibu menyetrika baju-baju seluruh keluarga dan anak perempuanya mengeringkan perabot dapur dan mengatur di rak dapur. Setelah itu ibu masih mengepel seluruh ruangan. Sesekali menidurkan anak bayinya yang rewelnya tidak diduga-duga.

Menjelang Malam

Anak perempuan pamit tidur. Ibu masih sempat merajut menemani sang Bapak menonton televisi. Sebelum anak laki-laki tidur, ibu mencobakan baju (sweeter) hasil rajutannya ke badan anak lelakinya. Sesekali sang ayah minta dituangkan air minum sebagai teman menonton televisi.

Pendidikan Perempuan di Televisi

Saat mereka menonton bersama, ada kejadian unik. Keseluruhan acara televisi tidak melulu hiburan. Sesekali ada liputan khusus. Ceritanya liputan khusus itu menceritakan kejadian di sebuah negara dimana ada ibu petani yang bekerja mencangkuli ladangnya sementara di punggungnya ada anak tertidur. Anak perempuan dalam laporan itu membantu ibunya sementara anak-laki-laki bersantai.

Sang Bapak ternyata melakukan pekerjaan senada. Bedanya, sang bapak memakai (lagi-lagi) traktor sawah.
Belum selesai laporan khusus yang berisikan hal menarik bagi sang Ibu, ternyata sang Bapak tidak begitu suka dan kemudian televisinya dimatikan.
Meskipun kesal, sang Ibu masih bisa tersenyum dan melanjutkan waktu merajutnya.

Saat tidur

Sang Bapak sedang tidur. Saat dia bermimpi ternyata yang ada di otaknya adalah perempuan cantik. Barangkali yang dipikir hanyalah bagaimana kawin lagi, alias poligami atau selingkuh, atau imajinasi jorok lainnya.

Apa yang ada di impian sang ibu? Ternyata dia membayangkan seandainya suaminya dan dirinya memilili peran yang seimbang. Bagaimana ketika pekerjaan rumah seperti memasak bisa dilakukan berdua. Bagaimana anak lelaki dan perempuannya sama-sama mendapatkan pendidikan setara. Bagaimana ketika masalah psikologis berupa kasih sayang juga masih bisa diberikan sang suami. Bagaimana ketika si sulung juga turut andil dalam mengasuh adik bayinya. Bagaimana si sulung juga menyuapi adik bayinya.Si ayah juga membersihkan kotoran buang air besar si bayi. Bagaimana anak-anak lelaki dan perempuan juga membersihkan ruangan bersama. Bagaimana si ayah juga ikut menata perabot dapur dan menata meja. Bagaimana ketika kedua anak laki dan perempuannya juga sama-sama menjemur pakaian. Bagaimana ketika si adik bayi menangis si Ayah juga bangkit dan menenangkan si bayi. Bagaimana sang Ayah juga belajar merajut.

Penutup

Ahlll…Bel Weker sudah berbunyi dan hari tetap berjalan seperti biasa. Sebuah pertanyaan muncul….apakah impian sang ibu bisa menjadi kenyataan ataukah hanya impian yang tak mungkin..?

KOMENTAR

Kisah di atas adalah kisah yang biasa ditemui oleh kita dalam kehidupan sehari-hari. Banyak hal-hal yang tidak berpihak kepada perempuan dan kadang siapapun tidak menyadari dan menganggap semuanya biasa. Tiada rasa bersalah.
Lelaki diuntungkan karena pada banyak hal keberpihakan selalu ada pada dia. Pendidikan, peralatankerja, tradisi, jam malam, pakaian dan kekuatan fisik. Sementara perempuan banyak dirugikan oleh cara busana, pelecehan, jam malam, peralatan kerja, upah dan masih banyak lagi.

Ketika saya belajar persoalan penganggaran ataupun masalah uang yang digunakan untuk APBD dan APBN, ternyata banyak hal juga tidak adil kepada perempuan. Dalam catatan, perempuan ternyata menempati porsi terbanyak dalam perolehan PAD. Mau tahu lewat apa saja? Biasanya sumbangan PAD terbesar adalah pelayanan kesehatan, pajak penerangan jalan, IMB. Pelayanan kesehatan jika mau jujur, baik di RS ataupun di Puskesmas, ternyata lebih banyak tercatat sumbangan kaum perempuan lewat persoalan kehamilan, pemeliharaan anak, perawatan sakit dan lain sebagaimya. Pajak penerangan lewat PLN di tiap rekening listrik yang dibayar: coba bayangkan siapa yang memanfaatkan listrik terbesar? Jika perempuan menggunakan setrika, menggunakan rice cooker dan menggunakan peralatan rumah tangga terbesar, maka pastilah penyumbang pajak listrik adalah perempuan. Ketika memikirkan IMB, maka pikirkanlah bahwa IMB itu terbesar yang menyumbang adalah untuk membangun rumah. Dan ketika membangun rumah pikirkan pula siapa pengguna rumah terbesar: dialah Ibu kita yang bekerja di rumah.

Ketika teman-teman membaca pengeluaran APBD/APBN untuk belanja negara, coba lihat lebih cermat: siapa penikmat kue terbesar APBD? Ternyata kebanyakan malah laki-laki. Ada yang pembelanjaan terbesar untuk pembangunan gedung sepak bola ataupun kesebelasan sepakbola. Ada yang digunakan untuk prasarana fisik jalan seperti lampu-lampu malam, taman kota, bangunan hiasan kota. Siapa penikmat itu? Sementara betapa anggaran untuk persoalan kesehatan (ibu dan anak), pemberdayaan perempuan sampai dengan persoalan pendidikan perempuan jumlahnya kadang hanya seper sekian persen dari total belanja.

Pada sisi lain tampaknya saya harus(lagi-lagi) mengakui bahwa saya bersalah kepada istri saya yang pada beberapa hal mengabaikan kebutuhannya yang semestinya sejajar dengan saya. Dan saya harus mengakui bahwa banyak hal pada kenyataannya perempuan lebih kuat dari lelaki.

Semoga para ibu diberkahi Allah dengan kesabaran dan diberi kekuatan. Dan semoga zaman bisa berubah untuk membuat wanita dimuliakan. Laksana Nabi memuliakan istri-istrinya. (*)

2 thoughts on “IMPOSSIBLE DREAM: Impian perempuan untuk sejajar dengan lelaki”

  1. Wah, bagus sekali ceritanya. Sangat sepemikiran dengan saya (mungkin karena dulu sering diskusi dengan Fery ^_^). So.. sering-sering berterima kasih pada kaum perempuan, pada istri..
    Mereka terlalu sering dieksploitasi atas nama cinta, loyalitas & ketaatan pada suami..

    *Hermawan

  2. Begitulah dunia dalam konstruksi kaum laki-laki yang tak belajar mencintai ibunya secara tulus. Tapi sebagai lelaki, rasa ingin diperlakukan secara “istimewa” kadang suka menghinggapi. Perjuangan tersendiri untuk membuang jauh-jauh rasa itu, apalagi kita hidup di masyarakat yang mengemaskan laki-laki dan membuat perempuan hanya sebagai pelengkap penderita saja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s