Pelajaran dari Susunya Yayan

Berwacana saja tanpa melakukan aksi, sama juga bohong. Melakukan aksi tanpa wacana, sama juga buta macam ayam kesorean nabrak-nabrak mencari jalan. Untuk itulah wacana yang baik adalah wacana yang didasarkan dari pengalaman, baik pengalaman diri sendiri ataupun pengalaman orang lain. Untuk saya yang memiliki anak kecil, tidak akan mungkin ataupun tega menjejali mereka dengan kebiasaan berceloteh melulu tanpa aksi.Saya banyak itu belajar mendidik anak itu dari orang lain. Dan pelajaran terbaik adalah menjadi contoh, bukan sekedar memberi contoh. Lebih baik lagi sebagai muslim yang bertanggung jawab kepada saudaranya, segala sesuatu yang berguna sebisa mungkin dituliskan agar menjadi hikmah bagi semua.

Ketika hari anak nasional kemarin saya mendapat pelajaran menarik dari Wasingatuz Zakiyah, teman saya seprofesi. Zaki memiliki anak yang usianya terpaut setahun dengan Heaven anak saya. Namanya Abian alias Yayan.

Pagi-pagi benar Zaki membagi-bagi susu sekardus besar,Merknya sama dengan yang dikonsumsi Yayan, untuk kemudian dipindahkan ke dalam plastik-platik kecil sejumlah 5 buah. Rencananya, susu itu akan diberikan kepada tetangga kiri-kanan yang tidak mampu yang terhitung ada 5 orang. Yang memberikan tentu saja Yayan sendiri, bukan ibunya.

Mereka, tetangga itu punya anak yang menjadi teman sebaya Yayan. Yayan sendirilah yang ditanyai ibunya tentang siapa-siapa yang miskin dan perlu dibantu dengan tidak boleh berpikir apakah mereka adalah bolone (temannya )Yayan ataukah musuh. Yang penting, mereka tidak mampu, maka Yayan wajib memberikan susu untuk mereka.Habis perkara.

Apakah Zaki termasuk orang yang mampu sehingga macam sinterklas dengan serta merta membagikan susu yang di negeri ini mahalnya minta ampun? (padahal kualitasnya dipertanyakan) Tentu tidak. Dari sisi gaji dan ekonomi saya kira bisa dihitug bahwa dia masih kategori kelas menengah. Akan tetapi untuk mengajarkan budi pekerti kepada anak, biaya segitu adalah ongkos paling murah daripada melihat anaknya di kemudian hari tidak memiliki nurani dan hanya bisa berwacana.
Singkat cerita Yayan sudah melakukan tugasnya, mendatangi tetangga-tetanggany a dan memberikan susu. Pulang-pulang dia masih membawa sebungkus susu dari lima bungkus yang mestinya habis.

Zaki: "Bagaimana tadi, Yan?"
Yayan: "Udah semua, Bu. Cuma yayan heran."
Zaki : "Heran kenapa, Sayang?"
Yayan :"Itu. Kenapa semua Ibu yang dikasih susu sama yayan berterima kasih tetapi malah menangis? Seharusnya kan mereka senang. Itu kok nangis?
Zaki : "Ooh. Orang menangis itu Yan, tidak selalu bersedih. Ada saatnya menangis itu bahagia."
Yayan : "Oo.Bahagia. "
Zaki : "Iya. Bahagia karena ada anak yang baik seperti Yayan."

Yayan tersenyum. Saya yakin Yayan saat itu telah belajar satu hal. Bahwa dia bisa membahagiakan orang lain, dan bahagia tidak selalu ditunjukkan dengan tertawa. bagi ibu-ibu yang bertemu yayan, paling tidak mereka mendapatkan dua hal yang membahagiakan: pertama, karena mendapat susu gratis yang bagi mereka tidak terjangkau (demi nutrisi anaknya), dan kedua, karena yang memberikannya adalah seorang anak yang dicoba dididik orangtuanya dengan baik.

Zaki:"Yan, lalu yang sebungkus ini kok masih dibawa pulang. Memangnya Yayan tidak bertemu ibu X?"
Yayan: "Ketemu…"
Zaki: "Lalu?"
Yayan:" Ibu itu juga menangis, bilang terima kasih. Tetapi tidak bisa menerima susu ini."
Zaki : "OOh, ya sudah. sekarang ayo sama Ibu ke tempat ibu X."

Berdua Zaki dan Yayan ke tempat ibu X tersebut.

Zaki :"Ibu, mengapa kok ibu tidak menerima susu pemberian Yayan? Apakah susunya tidak cocok?"
Ibu X: "Alhamdulillah. Tentu saja susunya cocok. Sebenarnya begini, Mbak. Bukan maksud kami untuk mengecewakan Mbak dan Yayan yang baik ini untuk memberi kami susu. Saya yakin niat Mbak zaki dan Yayan ini mulia. Kami terharu. Tetapi Mbak, mohon dimengerti bahwa ekonomi kami adalah pas-pasan. Kami bukan jual mahal. Saya yakin anak-anak saya akan bahagia dan senang jika hari ini mereka minum susu. Terutama si kecil yang ada dalam gendongan saya. AKan tetapi mohon mbak mengerti bahwa susu formula ini bisa membuat anak-anak saya ketergantungan. Mungkin hari ini mereka bisa makan susu enak. Tetapi bagaimana jika hari-hari ke depan mereka memintanya lagi? Uang dari manakah yang bisa dipakai untuk kebutuhan ini? saya tidak bisa membayangkan jika mereka besok menangis dan meminta untuk minum susu lagi."

Zaki tercenung. Dia baru sadar bahwa punya niat untuk memberi saja tidaklah cukup tanpa mempertimbangkan secara strategis pada objek yang hendak diberinya. Inilah pelajaran terbaik untuk dia pada hari anak nasional.

Ibu X: "Begini saja, Mbak. Saya tahu bahwa Mbak sedang mengajarkan sesuatu yang baik untuk Yayan. Nah, kalau tidak keberatan, ganti saja susu ini dengan bahan pokok yang lain seperti beras, minyak ataupun kacang hijau. Kami akan senang menerimanya. "

Dan hari itu begitu indah. Cerita ini diceritakan kepada saya dan menjadi hikmah untuk saya sekeluarga.

Wassalam
(Feriawan)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s