Nasionalisasi, bercermin dari sejarah

Beberapa waktu ini saya agak terusik dengan istilah: nasionalisasi.
Beberapa diskusi di Internet juga sibuk ngobrol masalah nasionalisasi
seolah olah itu jawaban terhadap beberapa masalah terkait dengan
kepemilikan aset negara seperti tanah, air, udara, hasil bumi, hasil
tambang dan hasil-hasil lainnya. Dalam pikiran polos saya,
nasionalisasi berarti meminta kembali apa-apa yang sudah dijual,
disewakan, disepakati ataupun digadaikan kepada pihak asing untuk
kemudian dikelola sendiri. Banarkah itu?
Dalam wikipedia, entah siapa yang posting istilah itu, nasionalisasi berarti proses di mana negara mengambil alih kepemilikan suatu perusahaan milik swasta
atau asing. Apabila suatu perusahaan dinasionalisasi, negara yang
bertindak sebagai pembuat keputusan. Selain itu para pegawainya menjadi
pegawai negeri.

Konon,
nasionalisasi menjadi mantra sakti demi mengembalikan aset indonesia
yang sudah dikuasai asing macam indosat, ladang minyak, contohnya Cepu
yang dikuasai Exxon, sumber air , di beberapa tempat yang dikuasai
Aqua. Freeport. Dan masih banyak lagi. Bisa jadi dengan begitu
Indonesia seolah main kemplang dengan ingkar terhadap semua perjanjian
yang secara sepihak ingin dilakukan peninjauan kembali, penundaan,
pembatalan atau apapun itu.

Hitung-hitungan yang ada yakni:
dibandingkan dengan embargo dan resiko larinya investor, nasionalisasi
lebih menguntungkan daripada liberalisasi. Semuanya dikelola sendiri
dan diolah sendiri daripada diolah orang lain dan kitanya cuma ampas
atau asap doang. Gampangnya, jelek-jelek biarin asalkan milik sendiri.

Entah
benar entah salah, saya lebih menakar kata nasionalisasi gaya Indonesia
dengan konsep nasionalismenya Soekarno. Saya tidak begitu paham benar
tentang beliau, tetapi Bapak saya tercinta sangat gandrung untuk
mendalami ajaran-ajaran Soekarno sehingga beberapa cerita tentan
Soekarno menjadi bahan obrolan menarik untuk kami berdua.
Bapak
menggambarkan bahwa Soekarno adalah orang yang serius untuk memikirkan
nasib Indonesia. Sejak dari Nol besar Indonesia berhasil dibawa ke
sebuah negara besar yang diperhitungkan di pentas dunia. Dalam
pandangan Soekarno tentang Indonesia, bangsa ini perlu melakukan
berdikari , berdiri di atas kaki sendiri yang berarti tidak bergantung
pada bangsa lain. Dalam sebuah pidato yang saya dapatkan dari Youtube,
Soekarno mengajak audiens memperbandingkan dalam bahasa sederhana:
apakah hidup di negeri kahyangan dalam epos ramayana dan mahabarata
(saat itu dia bercerita tentang kisah dari negerinya Mahata Gandhi)
yang serba ada, serba tersedia dan serba terpenuhi, ataukah memulai
kehidupan di alam nyata dengan penuh perjuangan. Dan ternyata pilihan
audiens dijatuhkan kepada pilihan kedua: hidup di alam nyata dengan
menghadapi kesulitan yang ada untuk kemudian menciptakan kisah sukses.

Beberapa
pihak mengkritik perilaku Soekarno yang berpesta poria untuk persoalan
politik tetapi tidak membuat rakyat menjadi sejahtera. Bahkan konon
beberapa agenda mercu suar seolah diceritakan dalam catatan pendidikan
sejarah a la Orba sebagai awal kegagalan Soekarno dalam memakmurkan
bangsa. Tetapi dari referensi lain hal itu dianggap sebagai strategi
menempatkan Indonesia di mata dunia agar masyarakat Indonesia punya
kebanggan sebagai bangsa, bahwa mereka telah memenangkan sesuatu dan
pantas diakui (sebagai jawaban atas kejenuhan yang ada). Macam strategi
Sun Tzu, bahwa prajurit yang terlalu lama berjalan dan tidak merasakan
nikmatnya kemenangan, akan lengah dan bosan, frustasi dan kemudian
disobedience, Soekarno mengadakan pertunjukan Olah Raga.

Lain
Soekarno lain pula Hatta yang secara konseptual menggagas Koperasi
sebagai sendi perekonomian dan bahkan dimasukkan dalam salah satu pasal
UUD 1945. Mungkin pada jaman sekarang istilah koperasi seolah macam
bahasa basi dan bahkan cenderung  dipolitisir sedemikian rupa.  Dalam
masa Orde Baru koperasi  dididik lebih tampak sebagai sekumpulan
manusia tanpa pekerjaan yang ditampung dalam sebuah badan dan kemudian
mereka beriur dalam iuran wajib plus sukarela untuk kemudian bekerja
bersama dan kemudian keuntungannya dalam bentuk SHU pada akhir tahun.
Sekarang Koperasi mana di Indonesia yang ideal?

Ayah
saya bercerita tentang koperasi dalam bentuk yang sederhana: "Bayangkan
seandainya saya dan teman-teman berkongsi: saya punya keterampilan
melukis, teman lain punya keterampilan menulis, yang lain lagi mengedit
komputer dan beberapa lainnya menempati posisi-posisi strategis dan
kemudian membuat kerja bersama. Keuntungan ataupun gaji dihitung
berdasarkan kontrak kerja seorang per seorang, tetapi dari keuntungan
itu kemudian dipotong untuk aset perusahaan dan setiap orang berhak
menggunakan aset tersebut setara satu sama lain. Bukankah itu
memudahkan."

Saya masih bingung:lalu  "Apa bedanya dengan perusahaan biasa dengan kepemilikan saham yang sama?"

"
Oke, begini: bayangkan jika kamu adalah petani di desa terpencil.
Beberapa petani senasib seperti kamu beriur untuk kemudian membeli
traktor dan traktor itu menjadi milik bersama."

"Kalau itu aku paham."

"
Nah, sampai di sini prinsip koperasi yang berarti kebersamaan sudah
masuk. Sekarang coba bayangkan jika kelompok petani itu teruuuuss
bekerjasama sehingga mulai dari alat semprot, penyediaan bibit,
traktor, distribusi, pupuk dan lain sebagainya secara berturut-turut
mereka adakan sendiri dan digunakan sendiri.Karena misalkan, daripada
beli pupuk orang-per orang mahal, maka mendingan beriur demi selisih
harga yang murah. Katakanlah cuma 100 rupiah per bungkus. Bayangkan
jika 100 rupiah itu dikalikan mulai dari bibit, distribusi, pemasaran,
dll bukankah itu semakin banyak margin yang terpangkas?"

"Nah,
sekarang bagaimana jika konteksnya ditingkatkan menjadi satu kabupaten,
bahkan satu provinsi, atau bahkan satu negara? Bukankah nilai tawarnya
semakin besar? katakanlah sebuah koperasi skala nasional mengelola
sekian banyak koperasi lokal demi ekspor ke luar negeri dalam
penyediaan suatu produk sehingga keuntungannya bisa dipakai demi
mendirikan sebuah perusahaan milik koperasi, katakanlah beli pabrik
traktor di jepang sana oleh koperasi petani di Indonesia. Bukankah
semakin maju petani di Indonesia?"

"Masssyaaa Allaaaaahhhh, benar juga."

Kembali
ke masalah nasionalisasi. Konon di negeri yang gemah ripah loh jinawi
ini setiap orang punya cita-cita dan idealisme. Sayangnya , terbukti
bahwa idealisme itu luntur ketika sudah berhadapan dengan uang. Maka,
nasionalisasi, kepada siapakah nantinya berpihak? Kepada petani dan
nelayan, ataukah kembali menjadi bahasa basi?

Saya
senantiasa menanti cerita-cerita indah dari Ayah saya. Dahulu, beliau
bersama teman-temannya mendirikan AKOP (Akademi Koperasi di Semarang).
Sayang, semangat mereka yang menggebu pada akhirnya tumbang karena
regulasi yang tidak berpihak kepada koperasi, serta kelihaian
kapitalisme yang menampakkan wajah murah dan riang. Semakin saya
dewasa, semakin saya mencoba menghargai sejarah. Sampai sekarang beliau
yang mengagumi Soekarno dan Hatta masih bersemangat untuk berkisah
tentang koperasi kepada siapapun yang tertarik, dan senantiasa aktif di
kampung, di tempat kerja untuk mengembangkan koperasi.

Feriawan A.N.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s