Membasmi Mentalitas Busuk di Civitas Academica

Tadi pagi saya ngobrol sama Pak Purwo Santoso, Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan FISIPOL UGM. Acara utamanya adalah ngobrolin masalah evaluasi kinerja kepala daerah. Tetapi itu tidak penting untuk saya kemukakan di sini. Justru Pak Purwo curhat sama saya dan teman-teman tentang apa yang menjadi kegelisahannya berkaitan dengan mentalitas mahasiswanya dan meminta saya sebagai orang Shalahuddin ataupun orang LSM Islam untuk cawe-cawe, alias follow mix, alias turut campur.
Kata Beliau, saat ini dia gusar dengan mentalitas mahasiswa berkaitan degan perilaku curang mahasiswa, baik dalam bentuk plagiatorisme, copy-paste isme dll. Untuk yang lagi kuliah di Fisipol UGM tentunya tahu kalau dia mengajar salah satu mata kuliah diantaranya Analisa Kebijakan Publik, Kebijakan Publik, dan Penelitian. Nah, ceritanya diantaranya kesibukan perkuliahan itu dia memberikan penugasan kepada mahasiswanya untuk membuat Paper dalam tema-tema tertentu.
Diantara sekian makalah yang terkumpul, sebagai dosen yang bertanggungjawab, tentunya sudah kewajiban dia untuk membaca satu demi satu isi makalah itu. Herannya, dia mendapati satu dua makalah yang kisi-kisi logikanya gak nyambung dan asal dibuat. Beberapa keyword dia catat dan kemudian memerintahkan kepada staff Fisipol bagian IT untuk searching di google berdasarkan keyword yang dia minta. Walhasil, ketahuan bahwa isi dari makalah tersebut adalah copy paste secara serampangan dan kasab mata dari keyword-keyword hasil Gogglingan tersebut.
Meskipun perilaku ngepek, nyontek, plagiat rasanya sepele di negeri penuh kebohongan, tetapi bagi beliau ini sudah mengarah pada sesuatu yang tidak sehat di kemudian hari. Terlebih, beliau mengingatkan bahwa dari awal mahasiswa masuk, khususnya pada saat Opspek, mahasiswa sudah membuat surat pernyataan yang isinya selain persoalan bebas narkoba, asusila dll juga bersedia dikeluarkan jika mendapati mereka melakukan plagiasi (benarkah? apa ya bahasa yang benar?). Lebih-lebih dalam skala makro demi kewibawaan Lulusan Fisipol UGM bagian Ilmu Pemerintahan, sepertinya sangat disayangkan jika publik mengatakan kejadian ini sebagai sesuatu yang di-wajar-kan.
Maka dengan wajah kecewa setelah menerima laporan staff IT tersebut beliau mengadukan perihal tersebut kepada Ketua Jurusan. Dari ketua Jursan, mahasiswa yang bersangkutan kemudian dipanggil dan diintrogasi: "Saya benar-benar malu jika ini benar. Tetapi jika memang benar, apa lagi yang bisa membuat saya mempertahankan Anda sebagai Mahasiswa Fisipol UGM?"
Karuan saja mahasiswa yang bersangkutan pucat pasi. Bisa dipastikan mereka akan jera mendapat skak mat seperti ini.
Kejadian tersebut membuat Pak Purwo pusing. Sebagai intelektual dan pakar dalam Ilmu Pemerintahan ataupun Otonomi Daerah beliau tentu sangat pakar, tetapi dalam hal merubah mentalitas mahasiswa, rupanya sifat kebapakan beliau membuatnya harus berfikir jernih. Kalau dalam kedokteran ada kode etik kedokteran yang diciptakan untuk dipatuhi dan menciptakan moralitas seorang dokter yang baik. Kalau di teknik dapat diarahkan moralitas demi terciptaknya profesionalisme seorang teknisian. Kalau di kehutanan ada kode etik rimbawan. Nah, kalau di Fisipol mau diciptakan kode etik atau tawaran profesi macam mana? Di Fisipol UGM yang menghasilkan birokrat, demonstran, aktifis LSM, teknokrat, ilmuwan, pustakawan, penulis, peneliti dll, mana bisa ada kode etik yang mampu menjerat mereka untuk berperilaku sesuai dengan sebuah idealisme? Begitu besarnya ruang bermain untuk manusia sospol dan begitu bebasnya sehingga terkadang nilai dan mentalitas bisa dibolak balik sedemikian rupa.
Barangkali kasus di atas bukan monopoli Fisipol UGM, atau Fakultas lain di UGM, atau juga kampus lain di Indonesia. Tetapi sebagai suatu penyakit tentunya butuh sesuatu yang bisa menangkal semua itu. Dalam pandangan beliau, kantong-kantong moralitas sudah semestinya memberikan dukungan untuk memperbaikinya, seperti kelompok keagamaan Islam (JMF di Fisipol atau di JS di tingkat Universitas) atau agama lain, organisasi ekstra, kelompok alumni dan profesi dimungkinkan untuk memberikan sumbangsihnya demi penciptaan alumni yang bukan saja cerdas secara akademis tetapi juga punya mentalitas yang tidak memalukan.
Harus Beliau akui selama ini itulah gagalnya pendidikan di Indonesia yang hanya mengajarkan dan menciptakan kaum intelektual dan pakar tetapi bukan satu paket dengan pendidikan yang bermoral. Nah, beliau butuh jawaban untuk itu.
Bisakah dimungkinkan diciptakannya lembaga pengawas (independen ataupun non-independen) yang mampu mengawasi sekian banyak tesis, desertasi dan juga makalah mahasiswa? yang kerjanya macam KPK? Secara bijak Beliau bilang bisa, tetapi toh lagi-lagi gagasan yang top down hanya akan menciptakan kepatuhan palsu. Kepatuhan yang didasarkan kepada ketakutan dan konsekuensi. Artinya, kalaupun lembaga tersebut bekerja efektif, hal itu tidak sehat demi pendewasaan mahasiswa sekarang.
Terlebih lagi, dalam era teknologi yang semua serba mudah dan bisa copy paste, tentunya akan banyak celah yang terbuka demi perilaku ini. Sehingga akan timpang jika dibentuk lembaga independen pengawas yang akan melawan kejahatan yang didukung sama google. Beda dengan dulu yang tinggal pasang intelejen di shooping center.
Yang beliau harapkan adalah iklim yang sehat dari civitas academica di Fisipol UGM. Dalam pada itu Beliau menunggu jawaban dari teman-teman. Nah, email ini bisa dikonfrontir kepada beliau untuk lebih memahami maksud beliau.
Bagaimana JS dan JMF?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s