Tangis Pasar Tradisional: Masihkan ada Pengumuman RRI tentang Harga sayur mayur mulai dari Cabe Kriting, Wortel Tanpa Daun, Kentang Mutu ABC dll?

Ketika saya melakukan penelitian tentang perijinan di daerah Kulon Progo, saat itu saya lebih sering ngendon di Kantor Pelayanan Terpadu (KPT) Kulon Progo (dekat terminal) dan bersenda gurau dengan pegawai negeri yang bertugas di sana.

Ada sesuatu yang menarik manakala saya memasuki pasar di Kulon Progo. Saya lupa namanya pasar apa. Yang pasti pedagang di sana mengeluhkan betapa pasar tradisional sekalipun murah tarif sewanya per lima tahun, tanpa pajak perijinan (sudah dihitung via sewa kios) tetapi terus didera masalah, khususnya masalah sepinya pembeli. Padahal dari sisi harga mereka sudah demikian kompetitif. Tetapi dalam pandangan mereka selalu saja kalah melawan tentakel globalisasi dalam bentuk supermarket, mega mall, hypermart dan minimarket yang mulai merambah sampai dengan tingkat kecamatan. Ada beberapa alasan yang mereka sinyalir sebagai biang yang mengancam kelangsungan hidup pedagang pasar tradisional:

Pertama, adalah kekuatan harga dari tentakel global yang tadi saya sebutkan. dengan kualitas yang relatif terjamin, bahkan seolah direct distribution, maka dari hypermart sampai dengan mini market bisa meng-update barang, harga sampai dengan model pelayanan dan penyajian yang lebih cepat dari pedagang pasar.

Kedua, kebiasaan berbelanja yang bergeser dari model tradisional dengan budaya ngobrol, tawar menawar, dan pilih-pilih barang menjadi kebiasaan swalayan. betapa tidak nyaman berada di Pasar Modern? Ruangan ber-AC(rata-rata), tidak perlu lagi tanya-tanya kualitas barang, langsung pilih sendiri dan bayar, selesai. Bayangkan jika berada di pasar tradisional yang kadang harga tidak standard, mutu barang kadang tidak terjamin dll.

Ketiga, adalah kekuatan media yang membackup pasar modern. Iklan televisi seolah mencuci otak manusia Indonesia untuk senantiasa mendapatkan barang di Pasar Modern. Bahkan sampai dengan black campaign mengenai penjualan barang kadaluarsa, barang palsu, daging glonggong dan rupa-rupa yang arahnya semakin memojokkan pasar tradisional.

Tentunya, masih bisa kita cari sebab musabab yang lain yang mencerminkan betapa efek dari globalisasi ataupun neoliberalisme begitu jahat dalam menyejahterakan masyarakat. Sayangnya, pemerintahan di berbagai daerah seolah menutup mata terhadap pertarungan yang tidak imbang ini. Saya tidak tahu apakah di RRI masih ada berita tentang harga kebutuhan tentang Cabe Kriting, Wortel Tanpa Daun, Kentang Mutu ABC dll?

Adalah Permendagri No. 42 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Pasar Desa  yang, semoga saja, membawa dampak yang basi bagi pengembangan pasar tradisional di pedesaan. Dalam permendagri itu dijelaskan bahwa Depdagri menginstruksikan kepada Pemerintah Daerah untuk lebih melindungi pasar desa. Sayangnya dari isi perjanjian itu dalam pandangan saya masih terdapat banyak kelemahan berkaitan dengan model perlindungannya ketika berhadapan dengan pasar modern (lihat Bab VI perihal perlindungan) dengan tidak adanya sanksi bagi pelanggar dan lebih bersifat etis daripada hukum.

Apakah manfaat pasar Modern bagi usaha kecil dibandingkan dengan Pasar tradisional? Nyaris di setiap pasar tradisional kita dapat menemukan pengamen, tukang jual racun tikus, tambal panci, kuli usung, sol sepatu, pedagang sayur dan usaha skala kecil lainnya yang bisa ditampung dan dihidupi. Dimana semua itu ketika pasar modern merampas para pembeli? Sayangnya dalam hukum kapitalisme, pembeli adalah raja yang berhak memilih kepada siapa mereka mesti melemparkan rupiahnya, tanpa paksaan dan tidak bisa diwajibkan dengan undang-undang sekalipun! Barangkali hanya keimanan saja yang memaksa saya untuk mewajibkan membelanjakan rupiah saya sebagian besar ke pasar tradisional. Baru kemudian ke pasar modern demi sabun, odol, minyak rambut dan beberapa kebutuhan lainnya yang tidak mungkin ditemui di pasar tradisional.

Benarkah bahwa pasar modern selalu terjamin? Saya kok sangsi. Dari pola persebaran beberapa minimarket macam i***mart dan a***mart saya mendapat isu bahwa mereka ini sebenarnya adalah kepanjangan tangan dari hipermart di kota-kota. Modusnya adalah modus cuci gudang. Daripada hypermart di kota mengobral barang atau menjual murah (tapi tidak terjamin) barang-barang nyaris kadaluarsa, mereka melemparnya dengan membangun minimarket di tiap kecamatan. Dilihat dari ongkos distribusi, keuntungan dan resikonya, cara ini jelas lebih mendatangkan rupiah daripada menelan kerugian ketika barang tertimbun di gudang, diobral ataupun diwakafkan. Maka, hati=hati belanja di minimarket dengan senantiasa melihat tanggal kadaluarsa.

Terakhir, saya sungguh berterimakasih kepada pasar tradisional atas beberapa kisah indah dengan tempat ini. Ada satu yang masih saya ingat. Ketika sepatu saya jebol, demi tetap bisa kuliah di Fisipol saya mesti ke pasar dan mengesol sepatu (kira-kira butuh rupiah 5000an). Demi menghemat dan demi menjalani laku prihatin layaknya Nabi SAW, saya tidak belanjakan uang itu demi jasa sol sepatu, tetapi saya rencanakan untuk beli peralatan sol sepatu sendiri dan mengesolnya sendiri. Paling butuh alat sol yang berbentuk tusukan macam obeng dengan ujung runcing dan ada lekukan dikit untuk ruang benang (alah..panjangnya, apa sih namanya?), benang string coklat dan hitam, lalu alat pengiris sol yang biasa dibuat dari payung untuk mengiris dan membuat rel sol. Bersepeda saya kepasar Umbulharjo demi mencari barang itu dan sulitnya minta ampun. Untunglah di bawah jembatan dekat masjid saya ketemu Mbah Jiyah (semoga masih sugeng) yang jualan kebutuhan sol sederhana ini di sana. Bukan hanya barang yang saya maksudkan bisa saya dapatkan, saya juga dapat minum gratis, cerita geratis dan undangan gratis untuk silaturahim ke rumahnya. Dia sangat simpati karena masih ada manusia unik, mahasiswa, macam saya yang rela ngontel dan sinau untuk ngesol sepatu. Ya saya jawab saja: alah mbah….wong cuma keadaan.😛

Sekian dan terima kasih….

3 thoughts on “Tangis Pasar Tradisional: Masihkan ada Pengumuman RRI tentang Harga sayur mayur mulai dari Cabe Kriting, Wortel Tanpa Daun, Kentang Mutu ABC dll?”

  1. bagaimana ya mengembangkan pasar lokal kita, kl seandainya sj ..bahwa sy melihat banyak orang indonesia yg sgt doyan berbelanja jeruk impor dan durian impor.. sy rasa mental bangsa kita juga harusnya ikut dibangun disini.

    Respon: satu-satunya jalan adalah menumbuhkan persaudaraan diantara kita. Gotongroyong kita, rasa senasip sepenanggungan kita, dan rasa solidaritas diantara kita sudah terlalu rusak oleh pamrih ekonomi. Lewat web ini pun saya menawarkan hal-hal yang positif, yang kalau diuangkan pasti dapat untung, tetapi saya tidak melakukannya karena saya mencintai bangsa Indonesia. Semoga ajakan ini menjadi bagian dari usaha menanamkan rasa persaudaraa dengan bangsa kita sendiri, dan tidak rela dijajah secara ekonomi.

  2. Salam merdeka bung.. apa sekarang masih mengamati pasar modern vs tradisional, karena saya baca, artikel ini thn 2008 apa masih up date hingga saat ini.. jika ya.. kita nanti bisa diskusi di masalah itu, karena saya 15 tahun berkecimpung dalam dunia yang bung bicarakan.. thx

    respon: salam merdeka juga, bung..wah sekarang saya bukan pengamat je..saya ini cuma sekedar pelanggan pasar tradisional yang dari dulu juga nggak berubah..rumah saya sekarang malah samping pasar..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s