Jagung hak ciptanya bukan milik Tuhan?

Ini hasil resume suatu malam, sebelum ronda, nonton metro realitas. Akan sangat baik untuk para aktivis yang membacanya. Dari malam topiknya mengenai beberapa petani jagung yang masuk bui gara-gara mencoba membuat bibit jagungnya sendiri.
Ada sekelompok petani jagung di Pare Kediri (rata-rata SD-SMP), dipelopori oleh seseorang penangkar yang hobby utak-atik benih macam John Mendell, yang mencoba membuat bibit jagung hibrida sendiri. Bibit jagung tersebut diperoleh dengan
menyilangkan beberapa varietas jagung hingga akhirnya diperoleh sebuah bibit jagung yang tidak kalah dengan bibit hasil dari perusahaan-perusaha an swasta penghasil bibit.Dan yang tak kalah hebat, bibit jagung tersebut di jual kepada para petani
lain dengan harga Rp. 15.000,-/kg. Jauh lebih murah daripada bibit yang dijual dipasaran hasil dari perusahaan bibit yang dibandrol dengan harga Rp. 50.000,-/kg. Hasil panennyapun sama bagusnya dengan bibit pabrikan tersebut.

Dengan kata lain, Mas X yang (ternyata) cuma jebolan SPMA (Sekolah Pertanian Menengah Atas-setara STM) dan bukan Mahasiswa UGM yang idealis dan pragmatis, itu berusaha menyelesaikan sendiri masalahnya dan masalah orang-orang disekitarnya, dengan jalan pengawuran, iseng dan pengalamannya untuk bisa mendapatkan benih jagung yang top: bisa diatur: mau tongkol panjang atau pendek, biji kecil atau besar, biji semua atau jagung tanpa biji (huss..ngawur) , panen cepat atau panen lambat. Dia begitu piawai.Dan itu adalah jawaban nyata dari persoalan petani di Brebes yang tercekik harga benih, pupuk dan kekhawatiran gagal panen.

Tapi kenapa kok malah mas X para petani ini dihukum hingga akhirnya mendekam di penjara? 5 bulan lagi?

Saudaraku se iman dan setanah air, keberhasilan para petani ini ternyata mendapat cekalan dari perusahaan bibit jagung
terbesar se-asia tenggara yaitu BISI. Ingat bBsi 18 ? Ilklannya sempat beberapa kali nongol dengan jargon tolbes(tongkol besar) tungsar (untung besar)  Bisi menggugat para petani dan dinyatakan telah melakukan pembajakan atas varietas mereka. Dan dengan latar belakang pendidikan yang sangat minim sekelompok petani ini diharuskan untuk berhadapan dengan dunia hukum tentang hak cipta yang sangat-sangat- sangat mereka tidak pahami.

Konon begini: petani-petani di daerah Brebes yang menciptakan varietas inimendapat kontrak dari Bisi. Isinya begini: “Hei petani, aku kasih kamu pinjaman benih yang nantinya bakal menjadi benih hibrida. Kamu tanam itu karena jagung yang kamu hasilkan akan aku kemas dengan plastik dan bandrol bermerk “Bibit Unggul Bisi18″. Aturannya gini: pertama, kamu tidak boleh jual bibit itu sama orang lain dus kamu cuma kembangkan thok.kedua, hasil panenmu tidak boleh dibeli siapapun kecuali aku. Ketiga, rugi untungnya kau menanam itu bukan tanggungjawabku: wong aku cuma kasih bibit, mau ya terserah gak mau ya terserah. gagal panen terserah berhasil panen ya terserah. Keempat, sebagai bunga atas pinjaman benih, maka aku potong harga panenmu sekian persen. Dan kelima dan itu pasti, harga beli aku yang nentukan, wong kamu gak bisa jual ke orang lain.”

Singkat kata singkat cerita, petani menjadi budak dari Tuan Bisi. Disuruh menanam jagung yang akan dijadikan benih. Asal tahu saja, menanam tanaman bibit yang nantinya akan dijadikan benih (alias indukan) itu tidak segemuk  atau sesubur tanaman hibridanya.  Sudah umurnya panjang, tongkolnya kecil, isinya jarang-jarang dan hasilnya tidak memuaskan.Otomatis nelongso. Padahal, bibit mereka itu nantinya kalau dijual dan ditanam (sebagai bibit jagung hibrida berbandro Bisi 18)akan tumbuh subur tolsar dan tungbes tadi. Tapi, jagung hibrida yang begini ini, jika bijinya ditanam, hasilnya ancur tidak sesubur induknya (semoga tidak mumet)

Nah, diantara mereka ada yang iseng untuk membuat varietas sendiri dengan menyilangkan tanaman bibit BISI ini dengan tanaman jagung yang lain, dan dari kerja keras mereka kok ternyata ketemu yang lebih tolsar dan tungbes dari BISI. Maka Tuan BISI naik pitam.

“Ini bibit kan dari saya. Hak cipta saya.Bolah-boleh saja kamu saling silang suling pakai tanaman hutan atau tanaman lain. Kalau pakai tanaman saya, benih, bibit ataupun apapun bahkan daun seakar-akarnya, itu melanggar hukum!! Dijual atau dimakan saja: titik. Ngeyel!! Penjara.”

Dan hukum berpihak kepada Tuan Bisi. Dipenjaralah petani itu. Yang satu dipenjara karena kreatif, yang lain dipenjara karena mencuri jagung di kebun yang mereka tanam sendiri. Dinas pertanian (yang isinya aluni dan sarjana pragmatis) hanya manggut manggut saja: “Ya memang begitu aturannya”.

Mas X bertutur di kebun pembenihan dia: “Mas, ada 2 alternatif untuk mendapatkan benih jagung unggul yang bisa ditangkar. Pertama, membeli hak cipta sama Tuan BISI (jelas gak mungkin) dan kedua, mendatangkan dari Thailand. Yang kedua meskipun mahal, relatif terjangkau harganya. Tetapi, undang-undang pertaniah mengatakan: benih tangkar yang dihasilkan sebelum dijual bebas kepada para petani harus diujicoba dikembangkan dulu di 12 provinsi dengan tenggat 2 musim yang berbeda.Nah, duit dari mana kami bisa mengadakan riset seperti itu?”

Apa yang sedang terjadi di Bumi Pertiwi ini? Petani bodoh dipiara, petani cerdas dipenjara. Petani kaya mana mungkin: impor mulu……

Setelah saya menyaksikan tayangan tersebut saya jadi miris akan masa depan negeri ini. Petani sebagai sumber penghasil pangan, kehidupannya sungguh tragis dan sangat mengenaskan. Sama sekali tidak ada keberpihakan pemerintah akan nasib para petani kita. Dan seandainya ini terus terjadi dan para petani telah kehilangan asa yang menjadikan mereka tidak lagi sudi menjadi petani, mau makan apa anak cucu kita nanti? Sungguh saya menitikkan air mata saat ini.

Bagi rekan-rekan yang mungkin juga menyaksikan acara tersebut mohon kiranya untuk melengkapi apa yang saya tuliskan ini dan mungkin akan menjadi berarti apa yang tertulis disini apabila rekan-rekan mau menyebarkannya ke milis-milis lain.

Semoga Para Petani Tetap Semangat dan Tetap Sudi Memenuhi Kebutuhan Pangan Akan Anak-Anak Negeri Ini.

Salam,
Feriawan-beberapa uraian lain dari tulisan Panji Omahloro

 

3 thoughts on “Jagung hak ciptanya bukan milik Tuhan?”

  1. Kalo memang itu maunya bisi okeh kita orang gag bodo cuma goblok. Saya penasaran ingin ikut den mas X. Salut buat penulis yg asli li li edan tenan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s