Sekolah Alternatif SMP Qaryah Thayyibah yang Menggugah Nuraniku.

Assalamualaikum wr.wb.

Setelah sekian lama saya nulis dan nerocos masalah software, kayaknya ini kali pertama saya mau ngomongin sebuah sekolah yang ada di desa kalibening Salatiga. Namanya Qaryah Thayyibah. Bagi Anda yang rajin nonton berita TV ataupun pemerhati pendidikan kayaknya nggak asing dengan sekolah ini. Tapi bagi yang belum, ijinkan aja saya untuk cerita dikit, kenapa sekolah ini begitu merangsang saya buat nulis malam-malam gini. Mungkin karena terpengaruh semangat 17 Agustus besok, ataupun juga keprihatinan terhadap diri dan kondisi bangsa.

Secara tidak sengaja saya mendapatkan video liputan media tentang sekolah ini dari seorang kawan yang rajin nyerambangi saya di Budi Mulia. Durasi video ini tidak panjang, total kurang lebih 20 menit. Tetapi sudah lebih dari cukup untuk menjelaskan tentang sekolah alternatif itu, dan yang lebih penting, adalah semangat yang membara untuk ditohokkan kepada saya tentang arti idealisme bagi hidup. Liputan yang ada bukan main-main: dari Metro TV (Oasis), Sisi Lain (TransTV) dan juga sebuah liputan dari TV7(sebelum berganti menjadi Trans7).

Isi liputan itu tidak banyak berbeda: Tampilan awal adalah gambaran pendidikan ideal untuk anak-anak kita: sebuah sekolah yang mencerdaskan anak, guru yang akrab, ruang kelas dan lingkungan yang menyenangkan serta tersulapnya anak-anak menjadi insan-insan unggulan. Ada Tunas Bangsa, Jakarta, ada Al-Azhar, Jakarta, mungkin juga beberapa sekolah lain di Indonesia yang menunjukkan betapa happynya anak-anak itu menikmati pendidikan yang mengerti banget sama jiwa anak-anak. Sebuah wajah pendidikan yang menawan.

Tentu saja gambaran itu punya kisi pahit: aduhai mahalnya! Untuk bersekolah di Tunas Bangsa minimal setahun ortu wajib membeli tiket masuk 10 sampai 50 juta dan uang bulanan ratusan ribu. Ironi! Dibandingkan dengan kondisi bangsa kere seperti Indonesia: dimana anak-anak masih keluyuran ngamen di jalan, bertahan dari lapar, justru makin banyak sekolah-sekolah unggulan menjamur, mematok harga tinggi, menjanjikan sesuatu yang lebih dan seolah memberi garis bawah: pendidikan yang baik adalah pendidikan yang mahal. Sebuah pendapat yang tidak selamanya benar.

Adalah sebuah SMP Alternatif di Desa Kalibening, Salatiga yang didirikan oleh Bahruddin untuk mewadahi anak-anak yang berasal dari keluarga tak mampu untuk kemudian dididik olehnya bersama sepuluh teman-temannya sebagai jawaban atas kenyataan hidup yang tidak berpihak pada masyarakat desa Kalibening yang miskin.

Berbeda dengan sekolah konvensional, sekolah ini tidak memakai pagar, tidak ada lonceng sekolah dan tidak memiliki gedung sekolah kecuali dua ruangan di rumah Baharuddin sendiri. Biayanya 15 ribu rupiah per bulan. Setiap siswa mendapatkan kredit komputer murah dengan cicilan per hari seribu rupiah untuk dibawa pulang. Belajarnya kadang di ruangan kadang di ladang atau
dimana pun yang bisa untuk belajar.

Apakah ini sekolah kere?Ternyata tidak! Sekolah ini memiliki akses internet 24 jam dan komputer menjadi menu harian siswa-siswi. Bahasa Inggris sudah menjadi percakapan harian bahkan sampai tingkat guyon siswa-siswinya. Itu saja? Tidak juga, karena dari nilai rata-rata sekolah ternyata bukan saja bersaing, tetapi juga jauh lebih unggul, khususnya dalam bidang matematika dan bahasa Inggris.

Bagaimana kelebihan itu bisa didapat? Apakah siswa-siswinya memang sudah unggul. Mari anda lihat website http://www.pendidik ansalatiga. net/qaryah/ siswa.htm utuk melihat profil siswa-siswinya. Mereka, rata-rata bukan dari siswa-siswi dari orang tua berada. Ada anak petani, bakul jamu, tukang jait, sampai dengan pengusaha kathok kolor.

Siswa-siswa itu didapatkan Bahruddin setelah mengumpulkan 30 warga yang dirasakan tidak bisa mengenyam pendidikan formal SMP dan kemudian ditawari untuk bersekolah sesuai dengan konsep dan idealismenya, dan hanya 12 orang yang menjadi siswa awal.

Emi Masnila Zubaiti, anak bakul jamu gendong itu dengan bangga menceritakan pada metro TV betapa dia dihina oleh temannya: Kamu kok sekolah di sekolah kampung sih, kok nggak ke kota? Sekolahnya (di kota) kan lebih bermutu daripada di kampung!”dan dia jawab”sekolahku lebih bermutu, di sini ada internet 24 jam sedangkan sekolahmu enggak!”

Emi layak bangga. Dengan model sekolahan dengan susunan tempat duduk
melingkar, letter U guru-guru berinteraksi dengan siswa lebih dekat,siswanya tidak terpaku dengan aturan-aturan formalitas yang kadang mengkekang akal remaja untuk bisa berpikir bebas. Konsepnya bukan belajar mengajar, tetapi belajar bersama. Erni dan teman-teman jika bosan di kelas, maka akan pergi belajar dengan petani, belajar dengan siapapun yang itu memberikan pemahaman tentang sesuatu yang berhubungan dengan mata pelajaran. Dalam sebuah gambar, mereka belajar di kebun tomat, mempelajari tomat dan bertanya kepada petani tentang proses menanam tomat itu (mengingatkan kepada sebuah kisah di buku Toto Chan).

Ketika Erni mengalami kesulitan dalam memahami apa-apa yang diberikan oleh guru, dia tinggal klik internet untuk mengakses e-dukasi.net, wikipedia atau apapun sehingga dia paham terhadap materi pelajaran. Dan ketika
pulang, di rumah dia bisa membagi manfaat dan memberi pelajaran tentang
komputer kepada bapaknya yang menjadi tukang sofa, dan ibunya yang bakul jamu.

Bagi Bahruddin, keberadaan komputer, internet dan interaksi yang intens dengan masyarakat sangat dibutuhkan oleh siswa melebihi kebutuhan siswa akan pagar (yang memagari siswa) ataupun gedung megah. Bukankah yang dibutuhkan adalah kepandaian dan juga jaringan yang memungkinkan siswa mendapat pengetahuan tanpa batas?

Bagi Ibu Erni yang tergolong miskin, bersekolah di Qoryah Thayyibah menjawab sebagian persoalan hidupnya: biaya murah, dekat dan berkualitas.
Sesuatu yang seolah menjadi mimpi kosong bagi kita yang terlanjur terjebak dalam iklim kapitalisme global.

Lalu, apakah kepuasan itu hanya dirasakan oleh orang miskin yang menyekolahkan anaknya di situ? Ternyata ada juga anak pengusaha celana kolor yang produknya dijual sampai ujung sumatra bersekolah di situ.

“Puas. Bahkan dibandingkan kakaknya yang bersekolah di SMP negeri di salatiga saya lebih mantap dan bangga anak saya bersekolah di sekolah SMP
QT(Qaryah Thayyibah).” katanya.

Prestasi yang menonjol dari siswanya, tidak ada yang lain,itulah kunci sebuah sekolah yang berhasil. Adalah Fina Af’idatus Sofa, dara cantik yang pengen jadi presenter ini adalah salah satu sampel dari 11 siswa lainnya. Dia telah menjuarai mengarang online bahasa inggris tingkat kota Salatiga, mengalahkan guru SMA dan mahasiswa. Juara 2 setelah SMP 1 Salatiga. Demi mendukung cita-citanya untuk jadi presenter, maka Fina diarahkan
guru-gurunya untuk belajar wawancara dengan warga sekitar, belajar menulis dan juga mengembangkan imajinasi bersama teman-temannya.

Maka, wajah majalah dinding di sekolah ini penuh dengan tulisan siswa-siswinya. Mau tahu dimana saja tulisan-tulisan mereka? salah satunya adalah di Kompas. lihat: http://www.kompas. com/kompas- cetak/0607/ 3/humaniora/ 2771288.htm

sementara beberapa yang lain dipasarkan dalam bentuk buku dan diterbitkan oleh LKiS dan Mata Pena Lihat:
http://www.provisie ducation. com/news. php

Di situs di atas Anda juga akan menemukan produk lain berupa VCD, power point dan juga kaset karya mereka. Kok bisa? Itulah. Salah satu VCD di situs itu berisi kumpulan tembang dolanan anak tempo doeloe, besutan guru seni suara di sekolah yang berisikan lagu-lagu daerah seperti wayah sinau, jago kate dan beberapa lainnya. Anak-anak diajari bergitar dan bernyani manakala mereka jenuh dengan mata pelajaran lain. Sambil melepas lelah, mereka berjoget dan bernyanyi lagu dolanan itu untuk kemudian dikaset dan di VCD kan menjadi dagangan yang laku. Uang itulah yang kemudian menjadi sumber pendapatan untuk memenuhi kebutuhan fasilitas sekolah mulai dari papan tulis, spidol, kursi dll.

Itulah sekolah itu. (maaf…saya terenyuh)

Marilah sama-sama kita berevaluasi dengan sebuah tempat yang tercinta, dengan pendidikannya mulai dari Playgroup sampai dengan Ponpes Mahasiswanya. Di ponpes ini internet 24 jam, digunakan oleh santrinya paling sering untuk chatting dan nge-friendster. Beberapa masih nganggur dan pating jenggeleg di pondok. Saya pribadi masih jauh dari berkarya, masih sekedar mencukupi makan anak dan istri. Belum sempat menjawab persoalan bangsa dan desa saya sendiri. Belum apa-apa.

Semoga tanggal 17 Agustus 2007 ini ada sesuatu yang lebih bisa kita berbuat. Merdeka….. ……(tanpa tanda seru)

Wassalamualaikum wr.wb.
Feriawan Agung N.
::ditulis dengan darah dan air mata::

One thought on “Sekolah Alternatif SMP Qaryah Thayyibah yang Menggugah Nuraniku.”

Comments are closed.